Pages

11 December 2014

Hamba Tuhan yang Benar

Renungan Harian - Di hari itu, kelahiran Yesus Kristus ke dunia menjadi trending topic bagi masyarakat Betlehem. Semua orang heboh dahsyat. Kenapa? Karena semua orang mengetahui bahwa Yusuf dan Maria masih dalam status bertunangan tapi sang perempuan sudah mengandung.

Guys, sekarang coba bayangin ya kalau kamu punya temen cewe, terus punya pacar, terus masih tunangan, eh tahu-tahu dapat kabar kalau temen cewemu sudah hamil. Pasti kalian bakal bilang, “oh mai gattt.” Dan kalian pasti sudah langsung mikir aneh-aneh tentang temenmu ini dan langsung gosip itu menyebar dengan cepat. “eh tahu ga lu, si anu hamil loh, gile, padahal kan baru tunangan, masa tau-tau uda hamil.”

Guys, sebagai seorang perawan, Maria pasti bisa ngalamin yang namanya galau berat, stress dan depresi. Dia pasti berpikir, “apa kata orang nanti kalau tahu gue hamil. Mau ditaruh di mana muka emak bapak gue kalau mereka tahu gue hamil.” Berbagai label negatif akan disematkan padanya karena ada bayi yang berdiam di dalam perut sang perawan. Guys, tentu sangat tidak mudah menjadi seorang Maria untuk mengemban tugas yang sangat berat dari Allah Bapa di sorga. Namun karena Maria adalah seorang hamba yang rendah hati, ia rela menyediakan dan mempertaruhkan hidupnya bagi kedatangan Mesias. Patut diacungi jempol karena dalam situasi yang sangat sulit ini, Maria tetap berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay.38).

Guys, Maria menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang melayani dan taat kepada Tuhannya. Maria percaya ketika ia menaati kehendak Allah, Allah tidak akan meninggalkan dirinya dan akan tetap setia menuntunnya langkah demi langkah untuk menapaki jalan-Nya.

Guys, sebagai para hamba-Nya Tuhan kita diingatkan bahwa betapapun beratnya tugas yang Tuhan percayakan kepada kita, entah dilema ketika diperhadapkan harus taat dan tidak menyontek atau memberikan contekan. Entah jadi masalah jika kita dimusuhin karena setia kepada kebenaran Allah. Tapi kita semua dituntut untuk taat dalam melaksanakan kehendak-Nya. Karena di dalam tanggung jawab yang Allah percayakan, Allah tidak pernah melepaskan kita dan membiarkan kita menanggungnya sendirian karena anugerah Allah selalu tersedia bagi kita.

Berbahagialah kita karena Rasul Paulus memberikan kata-kata penguatan untuk kita, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor. 12:9). Kiranya kita dapat memahami dan mampu melakukan kehendak Allah dalam kehidupan kita sebagai seorang hamba Tuhan.