Pages

07 April 2015

Lemah Lembut

Lemah Lembut, Bukan Lemah

Nats : Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi (Matius 5:5)

Banyak orang menganggap bahwa kelemahlembutan sama artinya dengan kelemahan. Dalam dunia yang didominasi oleh siapa yang kuat--diktator yang kejam, pedagang obat terlarang yang tak berperasaan, penguasa hukum yang berpengaruh--tak seorang pun ingin menjadi orang lemah yang dimanfaatkan orang lain.

Namun, inikah yang dimaksud dengan lemah lembut? Ketika Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang lemah lembut," Dia tidak meminta kita menerima hidup begitu saja atau pasrah terhadap perlakuan orang lain. Dia menasihati para pengikut-Nya supaya patuh kepada Allah dan menyerahkan kekuatan mereka di bawah pengendalian-Nya. 

Meski ilustrasi berikut tidak sepenuhnya tepat, namun mungkin dapat menolong kita memahami kebenaran ini: Ada kerjasama yang mengagumkan antara seekor kuda yang kuat dan penunggangnya. Seekor hewan dengan ukuran dan kekuatan yang hebat, yakni tujuh atau delapan kali berat seorang pria, menyerahkan diri pada pengendalian tuannya. Seekor kuda dapat berpacu, melompat, berbelok, berjingkrak-jingkrak, atau berdiri tegak hanya dengan sedikit perintah dari si penunggang. Itulah kekuatan dengan kontrol yang sempurna. Dan, itu juga menjelaskan konsep kekristenan mengenai kelemahlembutan. 

Saat kita berserah di bawah pengendalian Allah, berarti kita mengikuti teladan Yesus saat berada di dunia. Dia menyerahkan kuasa-Nya kepada kehendak Bapa (Yohanes 5:30; 6:38; Ibrani 10:9). Ya, dalam kelemahlembutan terdapat kekuatan yang besar. Yaitu kuasa Roh Allah yang bekerja melalui kita saat kita berserah kepada-Nya 

JIKA ANDA MENGIRA KELEMAHLEMBUTAN ADALAH KELEMAHAN COBALAH BERSIKAP LEMAH LEMBUT DALAM SATU MINGGU BERIKUT