Pages

24 August 2015

Yesus adalah Pokok Anggur Yang Benar

YESUS ADALAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

Yohanes 15: 1-8


Yesus Kristus adalah Pokok Anggur yang Benar.
Yesus memulai dengan kalimat Akulah pokok anggur yang benar. Pernyataan ini adalah pernyataan Ilahi (Ego Eimi). Bahwa Yesus adalah TUHAN. Pokok Anggur yang benar, menunjukkan kesejatian.
Tapi mengapa pokok anggur? Bukankah ada pohon cemara yang besar di Libanon, ada pohon ara yang subur dan berbuah banyak dan juga ada pohon Zaitun? Namun, Dia memakai analogi pokok anggur. Para murid tentu mengenal dengan benar pohon anggur, karena pada masa itu, anggur adalah komoditi yang sangat penting di Israel ataupun Palestina. Ternyata, anggur merupakan symbol negara Israel. Dalam PLberkali-kali Israel digambarkan sebagai kebun anggur . Pemazmur: Telah Kau ambil pohon anggur dari Mesir (Maz.80:9), Yesaya: Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel (Yes.5:7). Yeremia: namun Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan (Yer.2:21). Hosea: Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya (Hos.10:1).

Sayang sekali, karena Israel akhirnya berbau busuk dan menjadi pohon anggur liar, seperti kata nabi Yeremia. Itulah gambaran Israel.

Yosephus, seorang sejarawan Yahudi, berkata bahwa di atas pintu Bait Allah, terdapat ukiran yang sangat indah berbentuk pokok anggur, yang dilapisi emas, sebagai lambang Israel. Ukiran yang sangat bagus dan buah anggurnya besar-besar. Betapa bangganya para murid melihat lambang tersebut. Lalu Yesus berkata: Akulah pokok anggur yang benar, merupakan ucapan yang menggemparkan. Yesus menghancurkan kepuasaan atau kebanggaan diri Israel. Yang tidak kalah pentingnya, Yesus memakai analogi pokok anggur adalah merupakan contoh yang sederhana untuk menunjukkan kerendahan hatiNya.

Kalau tanaman anggur disebut pohon, maka itu adalah pohon yang paling tidak berbentuk. Pohon anggur akan menjalar atau merambat sesuai dengan para-para yang dibuat pengusahanya. (ada yang mengalegorikan hal ini; sebagaimana pokok anggur yang merambat, demikian juga Yesus merambat sampai ke ujung-ujung bumi). Menarik sekali karena Yesus langsung menyambung dengan kalimat, dan Bapakulah Pengusahanya. Yesus menunjuk relasinya dengan Allah Bapa. Bapakulah yang membentuk Aku. Bahwa Ia tidak mempertahankan apa yang ada padaNya menjadi kecongkakan, melainkan Dia menunjukkan ketaatanNya kepada Bapa sampai mati di kayu Salib. Yesuslah teladan kita dalam hal ketaatan pada kehendak Bapa.

Murid Kristus/kita adalah ranting-rantingnya.
Di ayat 5, Yesus menegaskan posisi kita sebagai murid, hanyalah ranting. Ini merupakan gambaran Yesus dengan GerejaNya. Ada 2 jenis ranting: Ranting yang tidak berbuah dan Ranting yang berbuah. Ranting yang tidak berbuah, akan dipotong, sedangkan ranting yang berbuah, dibersihkan supaya lebih banyak berbuah. Apa rahasia berbuah? Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Ini adalah perintah. Ada satu hubungan atau relasi melalui iman dan pimpinan Roh Kudus yang tidak terpisahkan antara gereja dengan Tuhan. Kesatuan dengan Kristus yang sifatnya kekal. Ada 7 kali kata TINGGAL (Remain ) dalam perikop ini.

Sebagai ranting, dia tidak hidup dari dirinya sendiri, mesti ada sokongan dari akar dan pokok anggur. Poin ini menunjuk bahwa manusia harus bergantung total pada Tuhan. Yesus berkata di luar Aku (terpisah dari Yesus; set a part), kamu tidak bisa berbuat apa-apa (Nothing). Keterpisahan dari Kristus, konsekuensinya pasti kehancuran atau kebinasaan. Seorang penafsir berkata (Matthew Henry), ranting yang tidak berbuah itu, hanya menempel dengan seutas benang pengakuan lahiriah saja, maka sekalipun terlihat seperti ranting yang baik, mereka akan segera kering, dan akan dipotong serta dibakar. Menjadi pengikut Kristus tidak bisa hanya secara lahiriah, akan tetapi totalitas hidup kita. Ranting yang benar, adalah orang yang memiliki iman yang sejati. Ia siap dibentuk atau menjalani proses, karena kadang harus dipangkas, dibersihkan tapi tujuannya adalah supaya semakin efektif dalam pelayanan. Justru kedekatan hubungan makin terasa waktu ada pemangkasan.

Ketika seseorang percaya pada Yesus, tidak serta merta secara spontan, sifat-sifat kita, pola pikir kita, keangkuhan, keegoisan kita hilang. Masih ada proses, itulah pentingnya pengudusan progresif. Kita membutuhkan relasi atau persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita perlu Firman yang terus membersihkan kita, mengajar dan mendidik kita, kita perlu doa yang sinkron dengan kehendak Tuhan (bnd. Ay.7). Yang terakhir ini merupakan hak istimewa, kita diberi kesempatan untuk meminta kepada Tuhan. Inilah ciri hidup yang tinggal di dalam Tuhan.

Tujuan Tuhan memilih murid (kita).
Tuhan tidak asal memilih tanpa tujuan. Ay.16 menyatakan bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah. Menghasilkan buah, itulah yang Tuhan mau. Murid-murid diingatkan bahwa Tuhanlah yang memilih, beda dengan tradisi rabi, dimana murid bisa pilih guru. Buahmu itu tetap. Tujuan Tuhan adalah supaya murid-murid menjangkau orang-orang sampai ke ujung bumi, supaya percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Ingatlah bahwa tujuan utama penulisan Injil Yohanes adalah supaya orang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya (20:31).

Dalam perikop ini, Yesus mengawali, Akulah pokok anggur yang benar dan mengakhiri dengan kamu berbuah banyak. Tapi harus digaris bawahi, bahwa sebenarnya buah itu bukan produk manusia tapi produknya Tuhan. Itu bukan buah ranting, tapi buah pokok anggur. Perlu diperhatikan bahwa Tuhan juga menghendaki buah yang banyak (ay.8). Ini bicara kuantitas, namun untuk menghasilkan kuantitas, harus dimulai dari kualitas hidup kita bersama Kristus. Quality first, and than Quantity. Gereja Tuhan harus memperhatikan kedua aspek ini. Sehingga tidak terjadi ketimpangan.

Tanda atau konfirmasi seorang murid yang sejati, adalah menjalankan amanat guru dengan taat. Kemudian menghasilkan buah yang kekal, dan di atas semuanya Bapa dipermuliakan. Inilah sasaran ultimat kita sebagai orang yang percaya, yakni supaya melalui hidup kita Allah dimuliakan. Tuhan berkata, si A ini benar-benar adalah muridKu. Terpujilah Tuhan.