07 May 2017

Iman dan Jati Diri

sabdanya.com - Siapa kita ini? Disadari atau tidak, tanpa pengenalan yang benar akan diri sendiri, jati diri yang sejati, akan sangat mempengaruhi hati dan pikiran yang akan sangat tercermin dari sikap dan tindakannya.

Apakah kita menganggap nilai diri kita ini berdasarkan harta yang kita miliki? jika ia, maka kita pasti akan berjuang begitu keras untuk meraih harta sebanyak-banyaknya karena dengan demikian kita akan menjadi berharga. Tanpa harta yang melimpah, kita akan merasa tidak berarti.





Apakah kita mengganggap nilai diri kita ini berdasarkan posisi/jabatan kita dalam pekerjaan kita? jika ia, maka kita pasti akan melakukan segala cara untuk meraih jenjang karir yang meroket sampai pada posisi puncak sehingga kita merasa kita ini orang yang berharga, bernilai dan terpandang.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat dijadikan dasar untuk nilai diri kita. Tetapi Musa memberikan sebuah kebenaran tentang nilai diri kita yang sesungguhnya. Alkitab mengatakan di dalam Ibrani 11:24-25 "Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.

Musa menolak jati diri, nilai diri sebagai puteri Firaun, dan ia menolaknya dengan iman. Iman membuat ia menolak jati diri yang bukan sesungguhnya jati dirinya. Jati dirinya yang sesungguhnya adalah sebagai umat Tuhan sekalipun menjadi puteri Firaun akan membuat dia mendapatkan harta yang berlimpah-limpah, posisi sebagai pangeran, sebuah jabatan yang tinggi. Tetapi ia menolak itu dan menagganggapnya dosa karena itu bukan jati dirinya yang sesungguhnya.





Kita harus mengimani bahwa jati diri kita adalah sebagai umat Tuhan, jati diri kita ada di dalam Kristus. Nilai kita adalah sesuai dengan apa yang dikatakan Kristus tentang kita dan bukan apa yang dikatakan oleh orang lain. Dunia akan lebih menghargai orang yang kaya, memiliki posisi tinggi dan lain sebagainya, tetapi nilai kita, jati diri kita tidak berkurang sedikitpun berharganya di dalam Kristus. Dan kita harus mengimaninya karena tanpa mengimaninya, kita akan terombang-ambing dengan prinsip dunia tentang siapa yang dapat dikatakan berharga/bernilai/terpandang.