Pages

08 May 2017

Iman dan Masa Lalu

sabdanya.com - Setelah Musa mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya bukanlah "puteri Firaun" melainkan umat Tuhan, Musa mengambil tindakan yang tegas atas hidupnya dengan meninggalkan seluruh "masa lalunya" di Mesir. Ia meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia tidak mau "terpenjara" dengan segala keagungan dan kemegahan Mesir. Tidak perduli seberapa kuat daya tarik Mesir, Musa berketetapan hati untuk meninggalkan semuanya itu dan untuk dapat melakukannya Musa melakukannya dengan iman .

Ibrani 11:27 (TB) Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tida kelihatan.

Tanpa iman, Musa tidak mungkin dapat melakukannya. Tanpa kepercayaan yang teguh akan panggilan Tuhan yang sejati, Musa tidak mungkin berani meninggalkan Mesir yang berkuasa saat itu untuk meraih apa yang tidak kelihatan. Hanya dengan iman yang teguh Musa berani meninggalkan masa lalunya di Mesir, sekalipun Mesir menjanjikan kenikmatan, kebahagiaan, keamanan, kenyamanan, dan lain sebagainya.



Dengan belajar dari Musa, kita juga sebagai orang yang percaya yang telah diselamatkan. Maka kita harus mengambil tindakan yang berani untuk meninggalkan "Mesir" kita, kehidupan kita di masa lalu yang tidak berkenan kepada Tuhan. Sekalipun kehidupan lama itu memberikan segala kenikmatan dan kebahagian tetapi jika itu adalah dosa dan tidak berkenan kepada Tuhan maka kita harus meinggalkannnya. Bukan dengan kuat dan gagah kita, melainkan dengan iman kita mulai melangkah keluar dari kehidupan lama yang berdosa. Kita tidak boleh menikmati kehidupan lama yang tidak berkenan lagi agar kita dapat masuk dan menerima kehidupan baru yang dari Tuhan.


Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4:28,29, 31,32)