Pages

27 May 2017

Membangun Sebuah Komunitas Shalom

Renungan Harian- Sebuah komunitas orang-orang percaya seharusnya menjadi sebuah komunitas dimana shalom itu hadir. Shalom itu berbicara tentang damai sejahtera Allah hadir di tengah-tengah persekutuan orang percaya. Shalom juga berarti tidak ada yang hilang dan tidak ada perpecahan. Tetapi komunitas shalom tidak berarti tidak akan ada konflik atau permasalahan, namun orang-orang percaya harus bisa menyelasaikan konflik atau permasalahan tersebut sehingga shalom itu tetap ada ditengah-tengah orang-orang percaya. Paulus dan Petrus mengalami sebuah perselisihan tetapi mereka dapat menyelesaikannya dan shalom tetap ada ditengah-tengah mereka.

Jemaat mula-mula di dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 menjadi sebuah model sederhana seperti apa sebuah komunitas shalom itu.

Pertama, mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. (ayat 42, 46-47). Komunitas orang-orang percaya haruslah membangun kehidupan rohaninya yang dengan bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, artinya dalam setiap ibadah raya hari minggu, dalam kelas-kelas alkitab yang diadakan, dalam pertemuan-pertemuan kelompok sel, dalam pertemuan-pertemuan doa, maupun pertemuan-pertemuan khusus lainya dimana setiap orang mendapat pengajaran yang kuat berdasarkan alkitab dan membangun kehidupan doa yang kuat.

Kedua, maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda (ayat 43). Orang-orang percaya harus tetap memelihara iman bersama untuk mengadakan mujizat dan tanda sehingga melalui semua itu dapat menarik semakin banyak jiwa datang kepada Tuhan. Mujizat dan tanda tersebut juga akan semakin menolong pertumbuhan iman karena melihat firman Tuhan itu nyata (dalam konteks mujizat dan tanda-tanda ajaib, sekalipun ini bukan sebuah hal yang multak tetapi tetap berdasarkan kedaulatan dan kasih karunia Allah).

Ketiga, dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. (ayat 44-45). Orang-orang percaya harus membangun kesatuan. Jangan sampai mengizinkan hal-hal yang tidak untuk kemuliaan Tuhan atau hal-hal untuk kepentingan diri sendiri yang diperjuangkan karena hal ini akan mendorong perpecahan di dalam komunitas orang-orang percaya sehingga shalom tidak akan hadir. Dan sebagai satu komunitas orang percaya, kita juga harus saling menopang satu dengan yang lain baik itu secara jasmani terlebih lagi untuk hal-hal yang rohani. Tentu saja, dalam hal saling membantu secara jasmani (kebutuhan sandang, pangan, papan) ini bukan hanya untuk satu komunitas orang percaya tetapi juga bagi orang-orang di luar komunitas sehingga mereka juga dapat merasakan kasih dan berkat Tuhan.

Komunitas orang-orang percaya yang menghadirkan shalom akan menjadi komunitas yang disukai semua orang (ayat 47) sehingga ketika komunitas orang percaya tidak disukai (kecuali dalam konteks penganiayaan/serangan demi nama Kristus) maka kita harus melihat kembali bagian mana yang hilang sehingga orang-orang justru tidak menyukai komunitas kita.

Ketika orang-orang percaya yang dipenuhi kasih Tuhan dan selalu dipenuhi Roh Kudus maka akan menjadi komunitas yang menghadirkan shalom dan menarik sebanyak-banyaknya orang kepada Tuhan.