Pages

15 August 2017

Doa Bapa Kami

sabdanya.com - Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya berdoa dengan sebuah pembukaan yang meneguhkan kita kepada siapa kita berdoa dan kuasa apa yang dimilikiNya sehingga doa-doa kita terjamin jawabannya.

Matius 6:9 (TB) Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

Tuhan Yesus memulai dengan berkata "Bapa kami..." ini menunjukkan sebuah identitas baru tentang Tuhan yang disembah. Sebelumnya, umat Tuhan bahkan tidak "berani" memanggil Tuhan dengan namaNya tetapi Tuhan Yesus datang dan memulai sebuah hubungan yang baru bahwa kita juga dapat memanggil Tuhan sebagaimana Yesus sendiri memanggil Dia dengan sebutan "Bapa/Abba."

Ini sebuah keintiman yang baru yang Tuhan bangun antara kita manusia yang tidak layak ini, di dalam Kristus dapat memanggil Dia dengan berseru "Bapa"

Roma 8:15 (TB) Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

Dengan demikian, kita tidak perlu terjebak dengan perdebatan haruskah kita memanggil Tuhan dengan "Allah," atau Yahwe" karena Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kita untuk memanggil Tuhan itu "Bapa"

Kemudian Yesus mengajarkan "yang ada di sorga..." ini menunjukkan bahwa Bapa yang kita sembah di dalam Tuhan Yesus itu bertahta di sorga, jelaslah Tuhan yang benar itu benar-benar disorga dan menghilangkan tanda tanya apakah sorga itu benar-benar ada. Tuhan Yesus juga memastikan kepada umat-Nya bahwa suatu hari nanti kita semua akan ada berada di sana.

Yohanes 14:2 (TB) Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.





Kemudian Yesus mengajarkan "dikuduskanlah nama-Mu..." ini bukan berarti Tuhan itu kurang kudus sehingga kita terus mengatakannya agar menambah kekudusannya. Sama sekali tidak, perkataan ini dalam doa kita tidak menambah kekudusannya atau akan mengurangi kekudusannya bila kita tidak mengucapkannya. Dia Tuhan yang kudus, tetap kudus, selamanya kudus, sempurna kudus dan tidak ada yang dapat menambah atau menguranginya. Dikuduskanlah nama-Mu merupakan pengakuan kita bahwa Ia adalah Tuhan yang kudus dan kita memuliakan Dia.

Karena Allah itu kudus, kita sebagai umat-Nya juga dikuduskan karena kita tidak akan mungkin menjadi kudus jika bukan di dalam Kristus.

Kolose 3:12 (TB) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Pada bagian pertama ini, kita bersyukur bahwa kita yang tidak layak dapat memanggil Tuhan itu Bapa seperti Yesus sendiri memanggil Dia, Bapa. Kita juga bersyukur bahwa kita memiliki kepastian tentang sorga, Dia di sorga dan juga akan membawa kita bersama-Nya di sorga. Kita juga bersyukur menyembah Allah yang kudus dan juga akan menguduskan kita yang penuh dengan dosa.

Selanjutnya Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran yang sangat penting dalam doa ini yaitu perihal kerajaan dan kehendak.

Matius 6:10 (TB) datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Hal ini memberikan gambaran posisi manusia di dalam setiap doa-doanya, bahwa yang harus menjadi kerinduan kita adalah kerajaan dan kehendak Tuhan dan bukan kerajaan dan kehendak manusia.

Kerajaan disini tidak hanya berarti kerajaan secara fisik seperti yang kita ketahui ada di bumi ini namun yang paling utama adalah ke-raja-an Tuhan, artinya Tuhan lah yang menjadi Raja dalam hidup kita, dalam hidup semua orang di bumi ini. Tuhan yang memegang "pemerintahan" hidup kita dan bukan kita yang berkuasa, bukan kita yang mengatur dan memegang kendali. Tanpa disadari orang bercaya berkata Yesus adalah Tuhanku dan Rajaku tetapi fakta hidupnya, dia sendirilah yang menjadi tuhan dan raja. Sebab kerajaan itu adalah Yesus di dalam kita, ada di antara kita, Allah immanuel.

Lukas 17:21 (TB) juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU."

Maka ketika kita berdoa "datanglah kerajaan-Mu..., kita sedang berdoa agar Kristus menjadi Tuhan dan Raja yang berkuasa memerintah dalam hidup kita dan dalam hidup semua orang.

Kemudian Tuhan Yesus mengajarkan "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."

Hal ini semakin menguatkan bahwa dalam hidup kita Tuhanlah yang berkuasa, yang memerintah, yang mengatur segala sesuatunya dan oleh sebab itu keputusan atas segala sesuatu di dalam hidup ini adalah keputusan dan kehendak Tuhan yang terjadi. Tuhan tidak menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak kita, kitalah yang harus "menyesuaikan" kehendak kita dengan kehendak-Nya.

Doa kita bukanlah untuk memuaskan diri kita dengan segala keinginan dan kehendak kita tetapi justru untuk kita mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup kita dan kita hidup dengan kehendak Tuhan itu.

Apakah kehendak Tuhan itu dalam hidup kita? Kehendak Tuhan adalah agar kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat dan kemudian kita menjadi saksi-Nya agar yang belum percaya juga menjadi percaya.

Yohanes 6:29, 40 (TB) Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Ketika kita berkata "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" kita sedang berdoa agar Tuhan memakai kita menjadi alat-Nya untuk membawa orang-orang yang belum percaya kepada Yesus, menjadi percaya dan diselamatkan. Itu artinya doa kita adalah doa yang dari Dia dan untuk Dia saja.

Banyak yang menafsirkan bahwa bagian sebelumnya adalah "untuk Tuhan" dan bagian berikutnya ini adalah "untuk kita." Sesungguhnya hal itu tidak sepenuhnya tepat.

Matius 6:11 (TB) Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Ada beberapa bagian dari doa ini yang perlu pelajari dengan baik sehingga kita memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan bahwa ini juga semata-mata bukan tentang kita saja tetapi tetap tentang Tuhan.

BERIKANLAH... kata ini menunjukkan bahwa kita sangat bergantung kepada Tuhan. Kita berseru kepada Tuhan "berikanlah" artinya kita tidak akan berhasil mendapatkan apapun jika bukan Tuhan yang memberikannya. Maka kata ini harus membuat kita semakin bergantung kepada Tuhan dan bukan kepada diri sendiri atau orang lain.

Yeremia 17:5 (TB) Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

Dengan demikian, bagian ini bukan sepenuhnya tentang kita tetapi justru tentang Tuhan yang kita andalkan dalam hidup kita.

KAMI... kata ini secara konsisten dipakai dari awal, ini sunggu-sungguh menunjukkan bahwa kekristenan adalah komunitas, keluarga Allah; dengan demikian kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang fokus kepada diri sendiri, pertumbuhan diri sendiri tetapi harus bersama-sama di dalam Tuhan.

Lukas 16:25 (TB) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Si orang kaya ini fokus kepada kesenangannya sendiri dan tidak memperhatikan orang lain, Lazarus yang sangat membutuhkan pertolongannya.

PADA HARI INI... menunjukkan fokus kita adalah "hari ini" kita tidak bisa berkata tahun lalu saya telah doakan, bulan lalu saya berkobar-kobar melayani Tuhan, itu baik, tetapi bagaimana dengan hari ini? Apakah hari ini kita masih bergairah membaca alkitab? Apakah hari ini kita masih setia melayani? Apakah hari ini kita bahkan semakin berkobar-kobar dengan Tuhan?

Markus 2:22 (TB) Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

Ketika kita berkata "hari ini" kita sedang berkata Tuhan yang lalu sudah berlalu, dan terima kasih untuk semuanya itu tetapi aku mau yang fresh, yang baru dari Tuhan. Apakah yang yang fresh dan baru itu?

MAKANAN KAMI... bisa saja ini ditafsirkan sebagai kebutuhan kita sehari-hari. Kebutuhan untuk pengeluaran rutin dalam hidup kita, tetapi "makanan" ini tidak sepenuhnya tentang kebutuhan kita sehari-hari atau tentang makanan yang akan kita butuhkan, maka kita tidak boleh fokus dengan hal ino saja melainkan kepada sesuatu yang lebih kekal.

Matthew 6:11 (NKJV) Give us this day our daily bread.

Makanan yang dimaksud disini adalah "daily bread" dan kita dapat melihat perkataan Yesus tentang daily bread ini di dalam Yohanes 6:48 dan 51.

John 6:48, 51 (NKJV) I am the bread of life. I am the living bread which came down from heaven. If anyone eats of this bread, he will live forever; and the bread that I shall give is My flesh, which I shall give for the life of the world."

Tuhan Yesus lah yang dimaksudkan sebagai roti hidup yang kita butuhkan setiap hari dan ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan menafsirkannya sebagai makanan jasmani karena perihal ini Tuhan sudah menegaskannya dalam Mat 6:33

Matius 6:33 (TB) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Dengan demikian jelaslah bahwa yang jauh lebih utama kita butuhkan ketika kita berkata "makanan kami" sesungguhnya kita sedang berkata "berikan kami Yesus buat hidup kami" karena tanpa Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Yesuslah yang membuat kita "menikmati secukupnya" bukan apapun juga di dunia ini

Selanjutnya adalah bagian yang sangat penting bagi hidup manusia, yaitu pengampunan.

Matius 6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

Permohonan yang sangat mendasar bagi kita adalah memohon pengampunan-Nya dan tanpa pengampunan-Nya manusia dalam kehancuran besar.

Melalui bagian ini, kita mendapatkan "tujuan" kepada siapa kita memohon dan akan mendapatkan pengampunan, hanya kepada Bapa di sorga dan bukan kepada yang lain. Hanya Bapa di Sorga yang dapat mengampuni manusia atas segala dosanya. Pengampunan tidak akan di dapatkan dari orang-orang suci (the saints), para tokoh alkitab (Abraham, Ishak, Yakub,...), para malaikat, atau kepada siapapun juga tidak akan ada pengampunan.

Mengapa kita sepenuhnya bergantung kepada pengampunan Tuhan? karena kita tidak akan bisa menjadi benar dihadapan-Nya dengan apapun perbuatan kita, tidak perduli sesaleh apa kita hidup kita tetap tidak dapat layak dihadapan-Nya karena standar "kesalehan" kita tidak akan pernah sesuai dengan standar "kesalehan" Tuhan. Sebab itulah di dalam Yesaya 64:6 dengan tegas dikatakan

Yesaya 64:6 Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

Sebab itulah kita berdoa kepada Tuhan "ampunilah kami akan kesalahan kami.." dan pengampunan itu pasti diberikan kepada kita.

1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Berikutnya sebagai orang-orang telah diampuni oleh Tuhan, kita juga harus melakukan hal yang sama kepada sesama kita. Kita wajib mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita tidak perduli sebesar apapun kesalahan mereka dan tidak perduli sesulit apa kita mengampuninya, kita harus mengampuninya. Karena jika kita gagal mengampuni orang lain padahal kita telah menerima pengampunan, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita. Hal ini dengan sangat jelas digambarkan oleh Tuhan Yesus dalam sebuah perumpaan di Matius 18:21-35 ini.




(21) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (22) Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (23) Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. (24) Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. (25) Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. (26) Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. (27) Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. (28) Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! (29) Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. (30) Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. (31) Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. (32) Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. (33) Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? (34) Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya (35) Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Bagian pengampunan ini mendapatkan penegasan lagi dibagian akhir dari doa "Bapa Kami ini" yang semakin menunjukkan betapa pentingnya pengampunan dan mengampuni ini yaitu di ayat 14-15.

(14) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. (15) Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Bersyukur untuk pengampunan yang Tuhan berikan dan sebagai orang-orang yang telah diampuni, kita juga mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita.

Bagian terakhir dari doa ini adalah perihal pencobaan dan sesuatu yang jahat

Matius 6:13 "dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)"

Ketika kita berkata "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" artinya kita sedang meminta anugerah Tuhan agar kita tidak masuk ke dalam pencobaan karena kita tahu pasti bahwa bila kita masuk ke dalam pencobaan besar kemungkinan kita akan gagal menghadapinya karena kita begitu lemah dan tidak bisa menghadapinya sendiri.

Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."

Namun ini tidak berarti bahwa Tuhan itu suka untuk mencobai umat-Nya agar jatuh ke dalam dosa melainkan kita sedang memohon kepada Tuhan agar kita tidak lagi kembali kehidupan yang lama yang penuh dengan dosa, nafsu kedagingan karena pada bagian sebelumnya kita telah memohon pengampunan kepada Tuhan.

Sesungguhnya Alkitab menjelaskan kepada kita bagaimana kita seharusnya menghadapi pencobaan di dalam Yakobus 1:1-8

Yakobus 1:2 (TB) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

Dengan demikian, untuk memahami maksud dari bagian doa ini kita harus melihat pada bagian "tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." Maka sesungguhnya kita sedang berseru kepada Tuhan jangan biarkan kami sendiri menghadapi segala jerat, tipu daya si jahat yaitu si iblis dengan segala godaan, cobaan, yang berjuang menarik kita kembali kepada kedagingan, nafsu dosa. Kita sedang berseru "Tuhan kami tidak mau menjadi umpan yang empuk bagi si jahat, lepaskanlah ya Tuhan"

Bagian doa ini kembali menunjukkan betapa tergantungnya kita kepada Tuhan, sejak awal sampai bagian ini merupakan sebuah seruan doa yang mengajarkan kita untuk sepenuhnya mengandalkan Tuhan dan ketika kita menjalani semuanya dengan baik, kita harus memuliakan Tuhan karena Dialah yang menolong kita.