Pages

05 August 2017

Mengapa Kita Mengalami Kekeringan Rohani

sabdanya.com - Pernahkah Anda kehilangan hadirat Tuhan? Kekeringan rohani adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada orang percaya. Bukan karena Tuhan itu menjauh dari kita karena Dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita dan menolak kita, tetapi justru kitalah yang menjauh dari Dia dan kita mengalami kekeringan rohani.

Kita bisa saja tetap dalam pengajaran yang benar, doktrin yang benar tetapi kita mengalami kekeringan rohani. Pada masa-masa itu kita merasa bahwa Allah benar-benar tidak ada bersama kita, kita tidak merasakan hadiratNya seperti yang biasa kita rasakan dan nikmati saat kita datang padaNya.

Kita tahu bahwa sesungguhnya kita tidak dapat hidup tanpa Dia tetapi ketika kita tanpa disadari meningalkan Dia, kita sedang kehilangan segalanya. Kita menjadi tidak berdaya dan sangat lemah dari seluruh aspek kehidupan kita. Sekali lagi, Tuhan tetap ada, Dia tidak pernah meninggalkan dan menolak kita, kitalah yang menjauh dari Dia. Sesuatu telah menggantikan Dia di hati kita. Uang, dosa, kesombongan dan keangkuhan, hawa nafsu, dan lain sebagainya telah menguasai hati kita sehingga itu semua menggantikan Tuhan di hati kita.

Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."




Jika kita telah meninggalkan Allah, menggantikan Dia dengan segala sesuatu yang kita inginkan, ketahuilah dan jangan pernah ragu bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah sekalipun kita sedang dalam kekeringan rohani. Sekalipun kita telah meninggalkan Dia, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Sekalipun kita tidak setia, Dia tetap setia. Mengetahui dan menyadari bahwa kita mengalami kekeringan rohani adalah sebuah langkah awal yang baik, selanjutnya kita datang kepada Kristus, mengakui segala dosa kita dan memulai kembali hubungan yang intim dengan Dia dan tidak kembali melakukan keselahan yang sama dengan meninggalkan Dia.

Jika kita tidak memberi makan roh kita dan sebaliknya memberi makan dengan hal-hal duniawi, maka kedagingan kita akan membunuh kita. Pastinya akan sulit sekali untuk bergairah masuk dalam hadirat Tuhan jika kita telah menonton TV berjam-jam. Demikian juga kita tidak ada keinginan lagi untuk datang padaNya karena telah mendengarkan musik-musik sekuler yang tidak memuliakan Tuhan. Benar-benar sulit untuk bersemangat datang pada Tuhan bila kita telah fokus sedemikian rupa dengan hal-hal duniawi yang bukan dari Tuhan.

Saat asik bermain game, kita berkata lima menit selesai dan setelah itu masuk dalam hadirat Tuhan. Faktanya lima menit itu berubah menjadi lima puluh menit. Demikin seterusnya berlangsung dalam hidup kita sehingga kehidupan doa yang kuat menjadi semakin tergeserkan dan semakin biasa dengan hal itu. Mungkin saja ada banyak hal lain yang menarik kita dari hadirat Tuhan. Bahkan bisa saja ibadah yang dilakukan hanya sebagai ritual tetapi tidak ada "koneksi" sedikitpun dengan Tuhan. Sebab itulah kita ke geraja rutin, berdoa tiap hari, memberi, dan bahkan melayani tetapi tetap saja mengalami kekeringan rohani.

Kita suka melayani Tuhan, melakukan banyak hal dalam pelayanan tetapi sering sekali tanpa disadari fokus kita adalah "kegiatan-kegiatan" pelayanan itu dan bukan kepada Tuhan yang sedang kita layani. Dan keadaan ini membuat kita merasa "aman" di dalam Tuhan padahal kita sedang jauh sekali dari Tuhan. Saat kita berdoa, apakah kita benar-benar mencari Tuhan atau hanya sebuah ritual? Saat kita mendengarkan firman apakah kita benar-benar mencari kehendak Tuhan atau hanya sebuah ritual? Saat kita melangkah ke dalam gereja apakah hati dan pikiran kita tertuju kepada Tuhan atau hanya sebuah ritual?

Kita juga harus berhati-hati ketika segala sesuatu di dalam hidup kita spertinya baik-baik saja, termasuk dengan berkat-berkatNya yang berlimpah luar biasa dalam hidup kita. Pada masa-masa seperti ini kita bisa terbawa pada keadaan "I am fine, I don't need time with God" dan tanpa disadari menjadi malas untuk memberikan waktu untuk Tuhan.

Tuhan mau umatNya terus bergantung padaNya dan dengan selalu datang padaNya dalam segala keadaan hidup kita menjadi tanda bahwa kita benar-benar selalu membutuhkan Dia dan bergantung sepenuhnya kepada Dia saja.

Sebagai orang percaya, kita juga jangan mendasarkan kebahagian dan sukacita kita pada sesuatu atau keadaan. Kebahagiaan dan sukacita harus karena dan di dalam Kristus saja. Ketika segala sesuatu atau keadaan itu berubah tidak baik, kita akan tetap bahagia dan sukacita karena Kristus. Hal ini akan mendorong kita untuk terus dan tetap berapi-api untuk bersekutu dengan Tuhan. Sebaliknya, kita akan kehilangan gairah dengan Tuhan ketika sesuatu dan keadaan yang kita jadikan sumber bahagia dan sukacita itu tidak seperti yang kita inginkan.

Bersekutu dengan Tuhan, membaca, merenungkan dan mempelajari firman Tuhan setiap hari (give us this day our daily bread) adalah harga mati. Namun tetap harus hati-hati agar tidak terjebak dengan sebuah ritual semata tetapi harus menjadi momen perjumpaan dengan Tuhan.