Pages

23 August 2017

Mengapa Yesus Mengatakan Ia tidak Tahu Kapan Akan Datang Kembali

sabdanya.com - Pernyataan Yesus di dalam Matius 24:36 dan Markus 13:32 cukup "mengejutkan" kita sebagai orang percaya karena Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia tidak tahu bilamana Ia akan datang kembali. Bukankah ini sangat mengejutkan karena Ia adalah Allah yang maha tahu namun mengapa Ia tidak tahu kapan Ia akan datang kembali.

Matius 24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." 


Markus 13:32 "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."


Pernyataan ini mendorong kita untuk menyimpulkan bahwa Yesus bukan Allah karena Ia tidak maha tahu seperti Bapa yang maha Tahu. Ini adalah kesimpulan yang logis tetapi kesimpulan ini sangat jauh dari kebenaran. Tetapi karena Yesus adalah Allah, mengapa Ia tidak tahu kapan Ia akan datang kembali? dan bila Ia sebenarnya tahu kapan akan datang kembali, mengapa Ia mengatakan tidak tahu, bukankah ini artinya Yesus telah berdusta? dan bila Yesus telah berdusta, bukankah ini berarti Ia telah berdosa?

Untuk mendapatkan kebenarannya, marilah kita meneliti beberapa hal yang telah disampaikan mengenai hal ini.

Pertama, ada yang melihat Yesus dalam naturnya sebagai Allah sepenuhnya (100%) dan sebagai manusia sepenuhnya (100%). Pandangan ini mengatakan bahwa Yesus dalam naturnya 100% Allah tentu saja mengetahuinya tetapi Yesus dalam naturnya 100% manusia tidak mengetahuinya. Beberapa ayat digunakan untuk mendukung pandangan ini


Lukas 2:40 "Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya."

Lukas 2:52 "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."

Filipi 2:5-8 "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Dari ayat-ayat di atas kita dapat melihat bahwa Yesus mengalami "pertumbuhan" hikmat seiring pertumbuhan fisik dan usianya. Bila kita mendapatkan pandangan ini cukup logis dan dapat diterima, maka kita harus melihatnya lebih jauh. Apakah memang Yesus itu terpisah dari natur ke-AllahanNya dan ke-manusianNya? ada sisi kemanusianNya dan ada sisi keilahianNya? Dengan demikian kita telah mengatakan bahwa Yesus tidaklah seutuhnya/holistis. Tetapi bila kita memandang Dia secara utuh/holistis maka kita harus mengatakan bahwa sisi kemanusianNya dan keilahianNya secara utuh dan tidak terpisah. Artinya tidak dapat dipisahkan kemahatahuanNya tidak dapat dipisahkan baik dari sisi keilahianNya maupun kemanusianNya. Sebagai Allah, Ia maha tahu dan demikian juga ia sebagai Manusia.

Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan Yesus dimana Ia menjelaskan dengan sangat gamblang "tanda-tanda" kedatangannya kedua kali di dalam Matius 24 dan atas semuanya itu pesan penting dan utama perihal kedatangan kedua kali adalah bukan kapan tepatnya tanggal ataupun jam kedatangannya tetapi kesiapan umat percaya untuk menyambut kedatanganNya yang kedua kali.

Jadi mengapa Ia mengatakan Ia tidak tahu kapan akan datang kembali?

Yesus adalah Allah dan juga menjadi Manusia tetapi kedua natur ini tidak dapat dipisahkan karena sangat tidak logis mengatakan Yesus sebagai Allah mengetahui dan Yesus sebagai Manusia Ia tidak mengetahui. Tetapi apakah Ia telah berbohong dengan mengatakan Yesus mengetahuinya tetapi mengatakan tidak mengetahui? Tentu saja hal ini jauh dari kebenaran.

Mengapa Yesus mengatakan Ia "tidak tahu"?


Yohanes 8:28, 12:49 dan 14:31 memberikan gambaran kepada kita apa yang Ia maksud "tidak tahu"
Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.

Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini."

Dengan demikian, jelas sekali bahwa segala sesuatu baik apa yang akan Ia katakan maupun perbuat hanya sesuai dengan "perintah" Bapa. Jadi Yesus tidak dapat mengatakan kapan Ia akan datang kembali karena hal itu (hal kedatangannya yang kedua kali itu) tidak "diperintahkan" Bapa untuk disampaikan (dan ini adalah sebuah teladan "ketaatan" yang Yesus tunjukkan) sehingga sekali lagi yang Tuhan inginkan dari umatNya adalah selalu berjaga-jaga dan pesan sesungguhnya juga adalah bahwa kapan kedatanganNya yang kedua kali itu "tidak perlu" diketahui oleh murid-murid dan oleh kita semua orang percaya sebagaimana tertulis dalam Kis 1:7.

Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.