07 August 2017

Pelajaran Dari Kegagalan Simon

sabdanya.com - Kita akan belajar dari perikop Penjala Ikan menjadi Penjala Manusia yang terdapat dalam Lukas 5:1-11. Ini berkisah tentang Simon yang pada saat itu bukanlah "siapa-siapa" (bukan seorang murid apalagi seorang rasul) dia hanya seorang penjala ikan.

Pada hari itu, Simon yang telah semalam-malaman berusaha menangkap ikan tetapi gagal total. Simon tidak berhasil menangkap apa-apa. Kita akan belajar bagaimana Simon yang tidak berhasil ini pada akhirnya meraih keberhasilan. (Meskipun terdapat berbagai tafsir dan ajaran dalam perikop ini)

Simon yang semalam-malaman menjala ikan tetapi tidak menangkap apa-apa pada akhirnya menangkap sejumlah ikan yang luar biasa banyaknya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Simon menyerahkan "Perahu" kepada Yesus. Lukas 5:3-6. Simon adalah seorang nelayan yang handal. Namun gagal menangkap satu ikan pun. Tiba-tiba seorang pria, yaitu Yesus, naik ke perahunya untuk dapat memberikan pengajaran bagi banyak orang. Simon dapat saja menolak Yesus untuk menaiki perahunya apalagi dia sedang dalam keadaan kecewa berat setelah semalaman berusaha dengan keras tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Saat Yesus mengajar dari perahunya, dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Tanpa berpikir tentang keuntungan apa yang didapat dari Yesus, dia membiarkan Yesus "menguasai" perahunya dipakai untuk mengajar.

Simon mengakui kesalahan/kegagalannya Lukas 5:5. Setelah mengajar orang banyak itu, Yesus sepertinya ingin menolong Simon yang mungkin sangat bersusah hati. Ketika Yesus berkata bertolaklah ketempat yang dalam, sepertinya Simon sudah tahu apa yang maksud Yesus sebab itu dengan terbuka dia menceritakan usahanya yang telah gagal menangkap ikan. Dia mengakui dengan sangat terbuka bagaimana keadaannya.

Simon mendengar apa yg Tuhan suruh Lukas 5:5. Kemudia Simon dengan terpaksa atau tidak mungkin juga tidak, dia pada akhirnya bertolak ketempat yang dalam dan menebarkan jalanya. Akhirnya.. boom! sejumlah ikan sangat besar masuk kedalam jalanya. Entah darimana ikan-ikan itu datangnya atau kemana saja ikan-ikan itu selama semalaman Simon tidak berhasil menangkapnya. Simon yang mendengar apa yang Tuhan suruh dan melakukannya, menuai suatu keberhasilan yang sangat besar. Hal ini dapat terjadi karena Simon berada dalam satu perahu dengan Tuhan Yesus Lukas 5:6 sehingga ia menerima berkat yg dipadatkan, digoncangkan dan tumpah keluar. Lukas 5:6

Lalu bagaimanakah Simon menyikapi "keberhasilan" yang kini ia raih?

Simon bermurah hati dengan membagikan berkat yg diterima. Lukas 5:7. Banyak orang menjadi lebih tekun di dalam Tuhan ketika ia sedang dalam keadaan yang sangat sulit atau serba kekurangan tetapi tidak demikian ketika semuanya baik-baik saja atau dalam kelimpahan. Saat dalam kelimpahan banyak orang justru akhirnya meninggalkan atau melupakan Tuhan karena merasa tidak memerlukan bantuan Tuhan. Tetapi Simon yang mendapatkan berkat itu, dia tetap di dalam perahu bersama Tuhan Yesus dan menyikapi berkat itu dengan justru mengajak perahu lain untuk juga "menikmati" berkat yang ia terima. Suatu sikap murah hati dan yang tidak ingin "kaya" sendiri. Ia bisa saja menikmat sendiri seluruh ikan-ikan itu tetapi ia memilih bermurah hati dengan membagikannya dengan orang lain. Sepertinya ini menjadi salah satu kunci yang penting agar kita tidak "tenggelam" karena berkat-berkat yang kita terima.

Simon semakin mendekat kepada Tuhan Yesus. Lukas 5:8. Menyaksikan mujizat ia alami, ia menyadari betapa tidak layaknya ia. Ia tersungkur di kaki Yesus dan merendahkan dirinya dengan berkata bahwa ia orang berdosa yang tidak layak. Menyikapi berkat yang ia terima ia justru semakin sujud di kaki Yesus dan menyadari keadaannya yang sesungguhnya, Selain murah hati, Simon juga menunjukkan sikap yang rendah hati. Demikianlah Simon menyikapi keberhasilan/berkat yang ia terima.




Simon tidak menjadikan kesuksesan tetapi Tuhan Yesus yg nomor 1. Lukas 5:11. Setelah semalaman tidak berhasil dan dalam sekejap saja akhirnya menangkap sejumlah ikan yang sangat besar, seharusnya membuat Simon begitu puas dan pulang dengan penuh sukacita. Tetapi Simon justru meninggalkan semuanya itu dan akhirnya mengikuti Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak menjadikan kesuksesan/berkat sebagai yang nomor 1 tetapi Yesus yang tetap menjadi nomor satu. Inilah sikap yang terbaik yang ditunjukkan Simon terhadap kesuksesan/berkat yang ia terima.

Pada setiap bagian, saya tidak melanjutkan bagaimana mengaplikasikannya dalam hidup kita sehari-hari karena saya ingin pembaca membagikan apa yang didapat dari bahan yang sederhana ini.