26 September 2017

Apa Saja Pelajaran Pelajaran Penting dari Kisah Yusuf

sabdanya.com - Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,  bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kej 39:8-9)

Kisah  Yusuf   menginspirasi kita untuk mengerti bahwa masalah merupakan sarana untuk memproses kita menjadi pribadi yang dikehendaki Tuhan. Seorang yang mendapatkan mimpi dari Tuhan dan melalui perjalanan hidupnya yang penuh penderitaan, ia dipakai Tuhan untuk memelihara umat Tuhan menjadi seorang yang berkuasa dan mulia. Dalam kisahnya yang begitu menyedihkan bak sinetron di televisi, tidak ada satu pun dituliskan bahwa Yusuf marah, kecewa, bersungut-sungut, menggerutu atau membenci, meskipun Ia tidak dihargai, dikucilkan, diremehkan, tidak dianggap dan dibuang oleh saudara-saudaranya. Setelah ia menceritakan mimpinya, mereka semakin tidak suka dengan Yusuf dan justru memasukkannya ke dalam sumur. Bahkan ia dijual sebagai budak kepada orang Ismael, lalu dijual lagi kepada Potifar, seorang kepala pengawal raja, Firaun di Mesir untuk dijadikan budaknya.






Tetapi Yusuf disertai Allah dan mendapatkan kasih tuannya. Ini bukannya tanpa alasan, meskipun Alkitab tidak menuliskannya. Pasti Yusuf adalah seorang pekerja keras, rajin dan dapat dipercaya. Terbukti ia diangkat menjadi kepala atas seluruh rumah tangga Potifar.  Tetapi tidak lama kemudian, masalah menimpanya kembali. Ia diajak berzinah oleh istri Potifar, setiap hari dirayu dan digoda untuk mau tidur dengan istri Potifar. Namun sekali lagi Yusuf membuktikan integritas dirinya. Ia seorang anak muda yang memiliki karakter yang luar biasa, anak muda yang takut akan Tuhan dan menghormati kepercayaan tuannya. Saat ini banyak anak-anak muda yang justru menggoda istri majikannya, tetapi Yusuf kebalikannya dan ia menolak dengan perkataan integritasnya “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Yusuf menganggap bahwa perzinahan adalah sebuah kejahatan yang besar dan dosa terhadap Allah. Ini adalah integritas karakter dan iman yang luar biasa bagi anak muda seusianya. Berapa banyak anak-anak muda yang menganggap seks di luar nikah sebagai kejahatan dan dosa yang besar? Berapa banyak orang percaya yang gagal menjaga integritasnya dalam hal kekudusan ini? Bahkan para pelayan Tuhan sekalipun. Namun Yusuf telah membuktikan integritas dirinya.

Bahkan saat ia difitnah dan dituduh hendak memperkosa isteri tuannya, ia tidak memberontak dan membela diri habis-habisan, seperti yang banyak terjadi jika menimpa orang-orang percaya di zaman ini. Meskipun tuannya tidak membela dan memberikan keadilan kepadanya, malah justru memasukkannya ke dalam penjara, Yusuf tidak menaruh dendam dan kebencian kepadanya. Sekali lagi dalam ujian kedua ini, Yusuf membuktikan dirinya seorang anak muda yang memiliki integritas  iman dan tetap takut akan Allah. Walaupun penjara adalah resikonya, ia tetap tidak mau menuruti kemauan istri Potifar dan memilih menderita untuk menjaga kekudusan hidupnya. Itulah proses dari Tuhan ketika Tuhan memberikan visi yang besar kepada seseorang.  

Mungkin hari-hari ini masalah datang silih berganti. Persoalan membuat Anda seperti dimasukkan dalam sumur penderitaan dan kesengsaraan.  Atau mungkin Anda sedang mengalami penjara kesesakan karena tuduhan atau fitnah yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi Anda. Bahkan Anda diabaikan, tidak dihargai, dicela, dianiaya dan diremehkan oleh saudara-saudara atau orang-orang terdekat Anda. Saatnya mengerti bahwa masalah diijinkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Tuhan. Masalah adalah sarana untuk membentuk karakter dan iman yang berkualitas. Respon yang benar terhadap masalah akan membawa Anda masuk dalam kemenangan dan kemuliaan. 

Ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk kita dapat menemukan dan meraih maksud dan tujuan Tuhan atas hidup kita dalam menghadapi masalah:

1. Menang di dalam Iman. Kita harus tetap teguh dalam menghadapi godaan  dan pencobaan apapun yang menimpa kita. Takut akan Tuhan adalah kekuatan kita untuk tetap kuat dan sanggup untuk mengalahkan pencobaan.

2. Menang di dalam Karakter. Kita harus tetap tenang dan menguasai diri walau diabaikan, direndahkan, difitnah, diperlakukan tidak adil, dikucilkan bahkan dikecewakan oleh orang-orang dekat kita. Ini juga berarti kita harus menang di dalam kasih. Tidak perlu menyimpan kebencian , dendam dan kemarahan kepada mereka yang menganiaya Anda. Yusuf mau mengampuni dan menerima kembali saudara-saudaranya, meskipun ia punya kesempatan dan kuasa untuk membalas perlakuan mereka.

3. Tetap Mengerjakan Bagian Kita. Kita harus tetap melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita walaupun tidak kita inginkan. Kecakapan dan kerajinan dalam melakukan pekerjaan akan membawa kita kepada puncak keberhasilan dan kesuksesan. Alkitab mencatat, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu” (Kej 39:2)






Respon terhadap masalah adalah pilihan Anda. Bagaimana sikap Anda terhadap masalah menentukan keberhasilan dan kesuksesan hidup Anda. Akhir dari perjalanan seorang yang memiliki integritas dalam iman, karakter dan perbuatan adalah istana kesuksesan, seperti halnya Yusuf diangkat sebagai Perdana Menteri di Mesir. Pengangkatan Yusuf ini bukan hanya untuk mempermuliakan dirinya semata, tetapi untuk maksud Allah yang lebih besar, yaitu memelihara umat Tuhan yang akan menurunkan Mesias yang menyelamatkan dunia.  Alkitab mencatat perkataan Yusuf, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej 50:20).  Visi hidup yang Allah tetapkan bagi Anda bukan hanya untuk memberikan kesuksesan dan berkat bagi Anda, tetapi bagi orang lain, keluarga, masyarakat, kota, bangsa bahkan bagi dunia ini.