05 September 2017

Perempuan yang berzinah

Perempuan yang berzinah

Salah satu kisah yang paling mengharu biru bagi saya adalah kisah seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Kisah ini tertulis dalam beberapa injil perjanjian baru. Salah satunya adalah dalam Yohanes 8:1-11.

Menegakkan Hukum Taurat

Entah bagaimana perempuan ini bisa kedapatan berzinah oleh ahli-ahli taurat dan orang farisi dan mereka siap untuk menghukum perempuan ini. Dengan mengutip dari hukum Taurat Musa, mereka bertanya kepada Yesus untuk memberikan pendapat perihal pelaksanaan hukuman itu.




Mereka begitu bangga bahwa mereka ingin menerapkan hukum Taurat terhadap perempuan yang kedapatan berzinah ini dan mereka berharap mendapatkan apresiasi dari Tuhan Yesus betapa mereka adalah pelaku-pelaku dari hukum taurat itu.

Sepertinya pengharapan ahli-ahli taurat dan orang farisi itu akan mengecawakan karena Tuhan Yesus tidak serta merta melegalkan apa yang akan mereka lakukan sekalipun itu adalah melakukan hukum taurat. Dengan sangat elegan sekali, Tuhan Yesus membungkuk dan menulis sesuatu di tanah.

Entah apa yang ditulis oleh Tuhan Yesus, tulisannya atau apa pun itu, membuat ahli-ahli taurat dan
orang farisi meninggalkan perempuan itu dan Yesus. Kemana mereka yang ingin menegakkan hukum taurat? Bukankah sesuai dengan hukum taurat perempuan itu dilempari dengan batu? Lalu apa yang terjadi? Mengapa mereka akhirnya satu persatu meninggalkan perempuan itu tanpa menerima hukuman yang seharusnya?

Sebuah hukum yang baru

Kehadiran Tuhan Yesus memang bukan meniadakan hukum taurat. Hukum taurat itu tetap berlaku sampai hari ini. Tetapi dimanakah "sengat" hukum taurat itu? sengat hukum taurat itu semua telah dilimpahkan kepada Yesus. Tuhan Yesus yang telah menanggung seluruh kuasa maut dan mengalahkannya.

Kemudian, apa yang Tuhan kehendaki dengan diberikannya sebuah kasih karunia yang besar itu kepada kita? Bukan seperti ahli-ahli taurat dan orang farisi yang merasa benar dan siap menegakkan hukum taurat terhadap perempuan yang kedapatan berzinah itu, Tuhan Yesus justru menginginkan kita untuk memiliki kasih yang sejati seperti Tuhan Yesus. Sebuah kasih yang menutupi banyak dosa.

Sehingga ketika seorang yang kedapatan berdosa itu bukannya kita taruh ditengah-tengah untuk kita lempari batu melainkan menutupi dia dengan kasih dan menolongnya untuk mengalami pemulihan. Kasih kita bukan untuk menghakimi orang yang bersalah tetapi justru menguatkan orang tersebut agar dapat keluar dari kubangan dosa dan memperoleh hidup yang berkemenangan di dalam Kristus.

Dunia Kerja

Demikian juga di dunia kerja, inilah yang menjadi aplikasi dari kasih kita itu. Ketika seorang rekan kerja membuat kesalahan, kita bukan menghakimi untuk memblow up kesalahan tersebut sehingga orang yang membuat kesalahan tersebut menjadi putus asa, stress dan semakin sulit untuk menjadi lebih baik karena tekanan yang begitu berat dibombardir kepadanya. Kita justru menolongnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama dan tetap dapat bekerja dengan penuh sukacita dan bukan tekanan yang mematikan melainkan penghiburan yang menguatkan.