18 February 2018

5 Hal Yang Menjadikan Suami Luar Biasa

Arikel Khusus - Seorang suami adalah kepala rumah tangga, seorang imam bagi seluruh keluarganya. Maka peran seorang suami sangatlah penting, sangat menentukan arah keluarga. Seorang suami juga yang menciptakan atmosfir dalam keluarga. Sebuah pernikahan, sebuah keluarga tentulah akan selalu dinamis, akan terus bertumbuh seiring waktu dan perkembangan zaman. Tantangan hidup juga "bertumbuh" maka seorang suami juga harus ikut bertumbuh sehingga tidak akan kalah dan tertelan oleh zaman dan keadaan.

Pada 5 area ini adalah wajib bagi seorang suami untuk menjadi kuat dan terus bertumbuh.

Pertama, seorang suami harus bertumbuh dalam hidup berjalan bersama Tuhan

Memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan, semakin hari semakin mengenal Dia dan kehendak-Nya sangatlah penting bagi seorang suami. Seorang suami tidak dapat menentukan arah bagi perahu keluarga tanpa sang jurumudi yang terbaik yaitu Tuhan Yesus. Maka suami yang terus membaca alkitab, berdoa dan melakukan firman Tuhan setiap hari di dalam hidupnya akan menjadikannya seorang suami yang berhikmat sehingga dapat memimpin keluarganya untuk menjadi keluarga yang kuat dan memuliakan Tuhan. Dosa yang terus menghimpit dan coba menjatuhkan adalah musuh besar bagi seorang suami, oleh sebab itu dengan terus kuat di dalam Tuhan akan membangun kehidupan yang suci dan kudus sehingga menjadi suami yang setia dan tidak selingkuh atapun terlibat pada kecurangan-kecurangan lain yang pasti akan sangat berdampak bagi keluarganya.

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" Yosua 24:15

Kedua, seorang suami harus bertumbuh dalam komitmennya untuk hidup bersama isterinya

Membangung komitmen yang kuat untuk setia dan hidup menjalani pernikahan sampai maut memisahkan sangatlah penting. Khususnya pria, tentu godaan dari wanita lain yang jauh lebih baik dari isteri yang ada sekarang sangatlah besar (sekalipun wanita juga bisa jatuh dalam hal ini). Sebab itu membangun komitmen untuk setia sampai maut memisahkan sangatlah penting. Cinta kasih itu tidak boleh pudar oleh karena waktu, oleh karena fisik yang mungkin tidak lagi langsing, atau oleh karena wajah cantik yang mulai memudar dimakan usia, itu semua tidak boleh mengurangi rasa cinta kasih dan juga komitment untuk selalu setia sampai maut memisahkan. Sebab itu, salah satu kunci pentingnya adalah selalu mengucap syukur akan keberadaan isteri kita, apapun keadaannya, apapun kelemahan-kelemahan dan kekuarangannya, jangan pernah katakan cerai, tetaplah setia untuk bersama-sama menjalani hidup pernikahan sampai maut memisahkan.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya Efesus 5:25

Ketiga, seorang suami harus bertumbuh dalam kasih dan kebaikannya

Saat pacaran, menyebrangpun menggandeng tangan seolah-olah pasangan kita itu anak kecil yang takut menyebrang, makan disuapin seolah-olah pasangan kita itu anak bayi yang tidak bisa makan sendiri. Tetapi itu semua memang bentuk kasih dan kebaikan kepada pasangan kita. Hal itu seharusnya tidak boleh hilang bila sudah menikah terlebih lagi bila sudah memiliki anak-anak. Kasih dan kebaikan itu harus selalu dipupuk bahkan semakin ditumbuhkan lebih lagi dari masa-masa pacaran. Bukankah masa-masa pacaran justru banyak keterbatasan? sesudah menikah tidak ada lagi batasan maka kasih dan kebaikan itu dapat diekspresikan lebih lagi dari masa pacaran. Menghabiskan waktu berdua tanpa anak-anak juga tetap perlu dipertahankan, candle light dinner, kecupan-kecupan kecil yang manis dan lembut itu tidak boleh lekang oleh waktu dan keadaan apapun.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Efesus 4:32

Keempat, seorang suami harus bertumbuh untuk dapat mengakui bila berbuat salah

Mengakui kesalah pada isteri mungkin menjadi masalah bagi para suami. Tetapi ini justru sebuah kunci untuk tetap menjadikan suami itu luar biasa. Ketika kita para suami menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan, sebaiknya untuk segera mengakuinya dan meminta maaf pada isteri. Itu akan tetap memupuk kepercayaan isteri kepada suami dan tidak membuat suami dicap sebagai lelaki egois yang tidak mau mengakui kesalahannya, padahal sudah jelas-jelas salah. Ini sangat baik untuk membangun komunikasi yang kuat dan melatih "saling mengampuni" antara suami dan isteri dan terlebih lagi dengan orang-orang lain.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Yakobus 5:16

Kelima, seorang suami harus bertumbuh untuk mampu memberikan pengampunan

Suami harus berjuang dan melatih dirinya untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada isterinya (poin empat), hal yang sama juga bahwa suami harus mampu memberikan pengampunan kepada isterinya bila isterinya telah berbuat kesalahan. Kesalahan yang kecil maupun kesalahan yang besar, suami harus mampu mengampuni dan mengasihi isterinya. Tentu tidak mudah untuk mengampuni sebuah kesalahan yang besar, tetapi seperti Tuhan Yesus yang mengampuni semua orang yang mengaku dosanya, sebesar apapun dosa itu pengampunan Tuhan tetap diberikan. Dengan terus melatih diri untuk saling mengampuni, maka keberlangsungan rumah tangga yang dibangun, dengan Kristus sebagai dasarnya, akan tetap kokoh sampai mau memisahkan.

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Lukas 17:3