Pages

28 February 2018

MENGINJILI KARENA ANUGERAH

Renungan Harian - Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun kita telah mendoakan dan menginjili seseorang agar bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Dan hari yang dinantipun tiba, pada satu titik hatinya terbuka dan dia pun bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat.

Luar biasa, puji Tuhan atas pertobatan itu. Bahkan alkitab mengatakan ada sorak sorai saat satu orang bertobat. Tetapi, ada satu masalah yang bisa timbul atas "keberhasilan" ini. Kita mulai berpikir betapa hebatnya kita telah membawa satu orang bertobat dan menjadi warga kerajaan Allah.

Benar, melalui kita orang itu bertobat dan menjadi percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus. Tetapi, itu bukan sepenuhnya "karya" kita. Karena kita tidak pernah tahu (tapi kini sadarilah) bahwa sudah ada banyak orang dan tidak terhitung jumlahnya sebelum kita telah berdoa bagi dia, menceritakan tentang Yesus padanya bahkan juga telah "mentraktir" dia agar melalui meja makan terjadi felowship kudus.

Dan setelah semuanya itu kita yang masuk dan akhirnya dia menjadi percaya. Itu bukan semata-mata karena kita saja, telah ada banyak mata rantai orang-orang telah berkontribusi bagi pertobatan orang itu. Dan terlebih lagi, itu semua adalah karya Allah yang menyelamatkan karena kita hanyalah alatnya.

1 Korintus 3:5-9 (TB) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.