25 March 2018

Pacaran Dengan Yang Tidak Seiman

Artikel Khusus - Bolehkah Orang Percaya Berpacaran dengan Orang Yang Tidak Percaya. Dalam pandangan Kristen pacaran adalah masa penjajakan serius untuk saling mengenal lebih dalam dan akhirnya untuk mengambil keputusan untuk menikah. Pacaran bukanlah untuk coba-coba atau sekedar ikut-ikutan orang lain berpacaran tetapi benar-benar sebuah masa persiapan untuk pernikahan.

Tetapi apakah kita orang percaya dapat berpacaran dengan orang yang tidak percaya, orang yang berbeda imannya dengan kita? Apakah Alkitab memberikan penjelasan akan hal ini?

Sebelum kita melihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal ini, sebuah saran yang sangat tegas adalah jika kita berpikir untuk berpacaran dengan orang yang tidak percaya atau berbeda imannya maka jauh lebih baik jika niat itu segera dibatalkan. Sekalipun kita adalah orang yang sungguh-sungguh mengenal Kristus, berpacaran dengan orang di luar Kristus adalah salah besar. Hubungan demikian cendrung akan membawa kita justru menjadi semakin lama semakin jauh dari Tuhan, Bersama dengan orang yang imannya berbeda, cara hidupnya berbeda, nilai-nilai hidupnya berbeda, dan banyak hal berbeda bisa saja mendorong kita justr hidup di dalam dosa. Terlebih lagi kita akan sulit untuk berdoa bersama, beribadah bersama, memuji bersama, dan membicarakan tentang kasih Kristus selama hubungan kita.

Jangan berpikir kalau melalui pacaran kita akan dapat merubah dia atau membawa dia menjadi orang percaya. Kita harus belajar dari kesalahan Simson dan Salomo, bukankah kejatuhan mereka juga adalah karena wanita-wanita yang tidak percaya di dalam hidup mereka? Sepertinya memang tidak ada gunanya untuk berpacaran dengan orang yang tidak sama-sama hidup di dalam Kristus.

Alkitab mengatakan bahwa tidak ada persamaan antara orang percaya dan tidak

2 Korintus 6:14-15 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?

Alkitab mengatakan agar kita tidak memberikan anak kita kepada orang yang tidak percaya

Ulangan 7:3 Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki

Alkitab mengatakan mengatakan bahwa kita akan melahirkan keturuna-keturunan ilahi, ini tidak mungkin bila kita berpacaran dan menikahi orang yang tidak percaya Mal 2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Alkitab mengatakan bahkan bila kita akan menikah lagi setelah dipisahkan oleh kematian kita tetap harus menikahi orang yang percaya.

1 Kor 7:39 Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya. Alkitab mengatakan orang yang tidak percaya itu sebagai orang asing

Ezra 10:11 Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!"

Alkitab mengatakan berpacaran dengan orang yang tidak percaya akan membahayakan kita

Amsal 22:25 supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri. Alkitab mengatakan bahwa gelap dan terang tidak dapat bersatu

2 Kor 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Sebagai orang percaya, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan mempertemukan kita dengan seorang yang percaya untuk menjadi pacara dan kemudian pasangan kita hidup bersama dalam pernikahan. Janganlah kompromi dengan hal ini sebagaimana Alkitab telah dengan tegas berbicara kepada kita.