Pages

05 April 2018

MENERIMA KESEMBUHAN

Renungan Harian - Seorang yang menderita penyakit kusta menerima kesembuhan yang mungkin sangat mustahil ia terima pada masa itu. Ketika Tuhan Yesus telah turun dari bukit, ia memberanikan diri untuk datang kepada Yesus, sujud menyembah Dia dan kemudian meminta sesuai dengan kehendak-Nya untuk menyembuhkannya. Mungkin ini diluar dugaannya, Tuhan Yesus memberikan respon dengan berkata bahwa Ia menghendaki kesembuhannya dan seketika itu juga ia menjadi sembuh sempurna.

Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir.: Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. Matius 8:3-4.

Sampai hari ini, Tuhan Yesus tidak berubah. Dia tetap Tuhan yang berkuasa atas segala sakit penyakit. Tidak ada sakit penyakit yang tidak dapat disembuhkan, nama-Nya di atas nama segala sakit penyakit. Melalui seorang yang sakit kusta ini, melalui perikop ini, kita dapat melihat apa yang menjadi kunci sehingga ia menerima kesembuhannya dan kita dapat belajar darinya sehingga kita juga dapat menikmati kuasa mujizat kesembuhan dalam nama-Nya.

Pada saat itu, tidak hanya seorang yang sakit kusta ini melainkan ada banyak sekali orang yang datang dan mengikuti Yesus, Tetapi tidak semuanya mereka menerima kesembuhan, pastilah mereka mengikutinya karena ada yang mereka harapkan untuk dilakukan Yesus. Tetapi Alkitab mencatatat seorang yang sakit kusta inilah yang menerima kesembuhannya.

"Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia." Matius 8:1

Untuk menerima kesembuhan, kita jangan hanya menjadi orang yang berbondong-bondong saja. Kita harus menjadi orang yang datang berseru kepada Yesus. Dengan hanya berbondong-bondong saja tidak akan mendatangkan kesembuhan bagi kita, tetapi dengan datang secara pribadi kepada Yesus kita akan menerima kesembuhan kita. (Ayat 2)

Setelah datang kepada Yesus, orang yang sakit kusta ini mengambil sikap yang benar. Yaitu "Sujud menyembah Dia" Ini adalah sikap yang benar bila datang kepada Yesus. Sujud menyembah Dia bukan semata-mata agar melalui penyembahan itu Dia berkenan menyembuhkan, namun karena memang Dia adalah Allah yang layak disembah. Terlepas dari kesembuhan Ia nyatakan atau tidak, itu tidak akan merubah kebenaran bahwa Ia adalah Allah dan harus disembah. Bila kita telah menyadari dan menerima kebenaran ini, maka kita akan dapat dengan tulus sujud menyembah Dia. Kita akan dapat tetap bersukacita ketika menerima jawaban-Nya, apapun itu.

Orang sakit kusta ini datang kepada Yesus, mungkin menerobos orang yang berbondong-bondong dan kemudian sujud menyembah Dia. Dia pasti sangat mengharapkan kesembuhan, dia pasti telah menaruh seluruh harapannya ke dalam Yesus untuk kesembuhannya. Tetapi, ia tidak mengutamakan kehendaknya melainkan menjunjung tinggi kehendak Tuhan Yesus. Ia berkata "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentaahirkan aku." Ia tidak meragukan bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya, sama sekali tidak. Tetapi ia ingin kehendak Tuhan sendiri yang terjadi dan bukan kehendaknya. Sebab itulah ia berkata "Jika Tuan mau..." Ini bukan berarti meminta tanpa pengharapan atau "nothing to loose" melainkan sebuah sikap hati yang menyatakan "Kehendak-Mu Tuhan yang jadi dan bukan kehendakku" Ini berarti, sekalipun betapa aku ingin disembuhkan, tetapi jika Tuhan tidak berkehendak aku disembuhkan, aku tetap menyembah Engkau Tuhan.

Tuhan tahu kedalaman hatinya, Tuhan tahu ketulusan penyembahannya, Tuhan tahu bahwa ia telah mengutamakan kehendak Tuhan dan bukan kehendak dirinya sendiri. Dan oleh kasih karunia-Nya, Ia telah menerimanya dan menyembuhkannya.