Pages

08 April 2018

Oral Sex Dalam Pernikahan Kristen

Artikel Khusus - Oral Sex yang kita bicarakan ini hanyalah dalam konteks suami isteri dan bukan pasangan kekasih yang belum menikah. Dalam konteks pasangan yang belum menikah, oral sex jelas adalah dosa.

Lalu bagaimana dengan pasangan kristen yang sudah menikah. Apakah Oral Sex dapat dilakukan atau tidak.

Pertanyaan ini akan kita kaji dengan empat pendekatan.

Pertama, apakah oral sex ini secara eksplisit atau implisit salah atau tidak? Kedua, apakah oral sex itu tidak alami? Ketiga, apakah oral sex ini tidak sehat atau membahayakan kesehatan? Keempat, apakah oral sex ini tidak untuk/dengan kebaikan?

Kita akan melihat pendekatan yang pertama "Apakah Alkitab mengatakan oral sex itu dosa?" Alkitab tidak pernah menyebutkan baik itu secara tertulis dengan jelas maupun prinsip-prinsipnya yang menyangkut oral sex. Sebab itu kita tidak dapat mengatakan bahwa oral sex itu sebuah dosa dalam sebuah pernikahan kristen.

Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. 1 Korintus 7:3-4

Kita akan melihat yang kedua "Apakah oral sex alami/natural" Organ pria dan wanita seperti secara natural diciptakan untuk bisa "bersama-sama" (pasangan yang pas) maka apakah natural bila organ pria atau wanita itu dilakukan dengan mulut (oral sex)? Mungkin kita akan dengan cepat berkata itu "bukan pasangan yang pas"

Kita tidak bisa cepat-cepat menyimpulkan demikian, untuk hal ini kita perlu melihat beberapa hal di dalam kitab Amsal dan Kidung Agung ini dengan mengambil sebuah perbandingan bahwa melalui buah dada wanita seorang bayi menikmati susunya makanya secara natural buah dada wanita adalah untuk bayi dapat menikmati susunya, bukan untuk suami.

Amsal 5:19 rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.

Dengan prinsip kedua ini, seorang suami ternyata secara natural dapat dipuaskan dengan buah dada wanita dan membuatnya semakin berahi karena cintanya. Maka sekalipun natural bahwa buah dada wanita diciptakan untuk bayi dapat minum air susu ibunya tetapi juga dapat memuaskan sang suami, ini pun menjadi hal yang natural.

Kidung Agung 7:7-8 Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: "Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

Di dalam Kidung Agung ini digambarkan bahwa dengan tangannya ia akan menikmati buah dadanya. Sekalipun tidak disebutkan bahwa ini dilakukan dengan tangan dan bukan mulut, tetapi bahwa dengan buah dadanya sang suami menikmatinya dengan tangan maka tidak ada salahnya bila juga dilakukan dengan mulut.

Yang ketiga, apakah oral sex itu sehat dan berbahaya? Tentu saja oral sex menjadi tidak sehat jika salah satu pasangan mengidap penyakit kelamin dan ini jelas akan menjadi berbahaya. Sebab itu pasangan harus jujur dengan kesehatan organ vitalnya agar oral sehat dapat dilakukan secara sehat dan tidak membahayakan.

Yang keempat, apakah oral sex dilakukan untuk/dengan kebaikan? Pendekatan ini sepertinya yang menjadi pertanyaan besar dalam hal oral sex. Apakah salah satu pasangan "memaksa" pasanganya untuk melakukan oral sex? kata kuncinya adalah "memaksa" dan ini tidak sesuai dengan prinsip kebenaran di dalam Efesus 4:32 bahwa kita harus berbuat baik dan kasih terhadap yang lain (pasangan kita) sehingga bila salah satu pasangan memaksa untuk melakukan oral sex padahal ia tidak senang melakukannya, oral sex menjadi dosa karena salah satu pasangan itu "tidak berbuat baik" dengan memaksa pasangannya untuk melakukan oral sex.

"Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." English - "Be kind and helpful to one another, tender-hearted..."

Dalam hal oral sex pasangan kristen harus sepakat untuk melakukannya atau tidak, harus dengan kasih dan bukan dengan paksaan.

Sumber:

http://www.desiringgod.org/interviews/is-oral-sex-okay