Pages

06 May 2018

6 Perkataan Yang Akan Menghancurkan Pernikahan

Artikel Khusus - Penikahan Kristen adalah pernikahan satu kali sampai maut memisahkan (tetap boleh menikah lagi jika telah dipisahkan oleh kematian). Sebab itu, membangun pernikahan yang kuat dan indah harus menjadi prioritas suami isteri. Segala cara harusnya dilakukan agar dapat meraih kebahagian dalam pernikahan yang kuat tersebut. Belajar dari firman Tuhan mengenai prinsip-prinsip alkitab dalam berumah tangga seharusnya menjadi sumber utama. Kemudian belajar dari pasangan kristen yang kuat di dalam gereja atau komunitas rohaninya.

Satu dari beberapa hal yang harus diperhatikan oleh keluarga kristen adalah perkataan-perkataan yang justru akan mengakibatkan kehancuran dalam rumah tangga bahkan berujung pada pereraian. Berikut ini adalah perkataan-perkataan yang seharusnya tidak pernah diucapkan karena akan membawa pada pertikaian dahsyat dan dikuatirkan dapat berujung pada perceraian, tentu kita semua tidak menginginkan perceraian terjadi.

Pertama, jika kamu melakukan xyz, aku akan menceraikanmu atau aku ingin kita cerai

Suami dan Isteri seharusnya selalu penuh kasih dan sayang satu sama lain. Dengan kasih dan sayang itu, tentunya suami isteri dapat saling menerima kelebihan maupun kekuarangannya. Pastilah ada hal yang tidak disukai suami dari isteri dan begitu juga sebaliknya. Tetapi hal itu seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengatakan cerai. Perkataan jikamu kamu melakukan .... aku akan menceraikanmu berarti suami isteri tidak memberikan ruang bagi satu sama lain untuk melakukan sesuatu yang mungkin kurang pas. Perkataan cerai akan merobek dan menyayat-nyayat perasaan cinta dan hubungan harmonis. Kata cerai bukanlah kata yang baik untuk dikatakan oleh suami isteri, terlepas dari apapun perkataan maupun perbuatan yang tidak berkenan. Justru oleh karena kasih dan sayang, maka suami isteri seharusnya bisa saling membangun untuk menjadi lebih baik.

Kedua, aku menyesali hari pertemuan kita

Perselisihan bisa saja terjadi, mulai dari diskusi kecil dan sederhana tapi dapat berujung pada diskusi keras dan hebat sehingga emosi memuncak Ketika emosi memuncak, seringkali kita tidak berpikir dengan perkataan kita. Begitu hebatnya perselisihan itu, tanpa sadar atau mungkin juga secara sadar suami isteri berkata aku menyesali hari pertemuan kita. Suami isteri bisa saling membalas dengan perkataan ini karena tidak mau kalah dengan pasangannya. menyesali hari pertemuan sangatlah menyakitkan untuk didengar, itu sama saja berkata aku menyesal telah bertemu kamu dan bahkan telah menikah dengan kamu. Karena jika kita tidak pernah bertemu maka tentu kita tidak akan pernah menikah. Sememuncak apapun emosi kita, pastikan untuk tetap tenang di dalam hati dan tidak mengatakan aku menyesali hari pertemuan kita karena Tuhan turut bekerja pada hari pertemuan itu. Mengatakan itu juga berarti menyalahkan Tuhan yang telah turut bekerja dalam pertemuan itu. Bersyukurlah atas hari pertemuan itu dan bukan mengutukinya agar keluarga tetap dalam berkat Tuhan.

Ketiga, seharusnya kita tidak menikah.

Perkataan seharusnya kita tidak menikah menunjukkan penyesalan yang besar atas pernikahan yang telah diberkati Tuhan. Akan sangat sulit untuk terus memupuk rasa cinta dan harmoni dalam keluarga jika perkataan ini dikatakan. Pertengkaran akan semakin sengit dan pernikahan berpindah dari berkat kepada kutuk karena perkataan kita ini berkuasa. Perkataan berkat seharusnya yang kita ucapkan dan bukan sebaliknya. Bukankah suami isteri yang mengatakan seharusnya kita tidak menikah patut dipertanyakan rasa cintanya? Bila memang cinta telah menjadi dasar dari pernikahannya, bagaimana mungkin bisa mengatakan seharusnya kita tidak menikah.

Keempat, kita menikah hanya karena kemauan orang tua kita

Ada yang menikah setelah berpacaran bertahun-tahun baik itu di sekolah, di kampus, di gereja, di tempat kerja atau di lingkungan rumah. Tapi memang ada juga yang menikah karena telah dikenalkan dan di dorong oleh orang tua. Sekalipun demikian, itu tetap tidak dapat dijadikan alasan untuk mengatakannya kepada suami isteri. Bagaimanapun proses yang telah dilalui sebelumnya, pernikahan itu telah diberkati oleh Tuhan dan kewajiban suami isteri untuk terus bertumbuh dalam kasih dan sayang satu sama lain. Perkataan kita menikah hanya karena kemauan orang tua kita tidaklah dapat dijadikan alasan untuk tidak mengasihi dan mencintai pasangan. Perkataan ini akan melukai dan dapat menghancurkan rumah tangga karena itu berarti tidak ada cinta selama ini sebab pernikahan itu karena orang tua dan bukan karena cinta. Tetapi ingatlah, pernikahan itu tetap diberkati oleh Tuhan.

Kelima, aku tidak mencitaimu lagi

Cinta mempererat hubungan suami isteri. Cinta memang dapat memudar, sebab itu cinta harus terus dipupuk dan ditumbuhkan. Cinta yang sejati adalah cintanya Tuhan Yesus. Sebab itu, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan seraya memohon anugerah Tuhan agar cinta kepada suami/isteri tidak akan berkurang apa lagi memudar. Itu menjadi solusi yang penting bagi cinta yang spertinya memudar. Cinta adalah alasan pria dan wanita memutuskan untuk melanjutkan hubunganya ke tahap pernikaha, mengatakan aku tidak mencitamu lagi berarti aku tidak ingin bersamamu lagi. Ini tentu sangat menyakitkan dan dapat membuat hubungan itu retak bahkan berujung perceraian.

Keenam, mantanku jauh lebih baik dari kamu dan ternyata kamu tidak seperti yang aku harapkan

Setiap orang mungkin telah melalui berbagai kisah percintaan. Ada yang mungkin telah berpacaran lebih atau kurang dari 5 kali. Tentu saja, orang-orang yang pernah bersama memiliki kelebihannya masing-masing. Dan pastinya kita tidak dapat menemukan satu orang yang memiliki kelebihan dari semua orang-orang yang telah bersama kita itu. Mimpi kita adalah bila 10 orang yang telah pernah bersama kita dan kelebihan dari 10 orang itu kita temui dalam satu orang, tentunya itu adalah misi yang mustahil. Menerima pasangan kita apa adanya adalah solusi yang terbaik. Membandingkan pasangan kita dengan orang lain apalagi mantan kita menunjukkan bahwa kita masih mencintai mantan kita itu atau setidaknya masih terus memikirkan mantan kita itu, sebab itulah kita masih tahu percis tentang dia dan membandingkannya dengan pasangan kita. Ini sangat melukai perasaan dan menunjukkan penerimaan yang terbatas pada kriteria suami/isteri saja. Lupakanlah mantan, masa lalu adalah masa lalu, tataplah masa sekarang dan bahagialah dengan pasangan yang telah ada dan telah diberkati.