Pages

19 May 2018

Hati Tuhan untuk Orang Berdosa

Renungan Harian - Sabtu, 19 Mei 2018
Firman Tuhan datang kepada Yunus untuk pergi ke Niniwe, kota yang besar itu, agar menyerukan kepada mereka akan kejahatan mereka agar mereka bertobat dan beroleh keselamatan. Orang-orang di Niniwe tampaknya adalah orang-orang yang begitu jahat dan Yunus tidak ingin agar Niniwe mendapatkan kaih karunia Allah sehingga diselamatkan sehingga Yunus memilih untuk melarikan diri dari panggilan ini.

Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan; ia pergi ke Yafo dan mendapat disana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Yunus 1:2-3

TUHAN menetapkan untuk mendatangkan keselamatan bagi Niniwe, sekalipun mereka telah berbuat kejahatan yang sedemikian rupa tetapi Yunus telah menetapkan untuk dirinya untuk "menjadi hakim" bagi Niniwe dengan tidak mau ke Niniwe menyerukan keselamatan bagi mereka sehingga mereka akan binasa oleh karena kejatahan mereka. Yunus memandang Niniwe tidak layak menerima kasih karunia keselamatan dari Allah.

Sesungguhnya, Tuhan jauh lebih tahu bahwa Niniwe tidak layak menerima keselamatan oleh karena segala dosa dan kejaatan mereka. Tetapi Allah di dalam kasih karunianya yang tidak dapat dipahami oleh manusia, kasih karuni-Nya yang tanpa batas dan tanpa syarat telah menetapkan bahwa Niniwe harus diberitakan keselamatan sehingga mereka menangkap kasih karunia Allah itu dan diselamatkan. Yunus tidak berhak untuk "menghakimi" Niniwe bahwa mereka tidak layak menerima kasih karunia keselamatan Allah karena Yunus sendiripun tidak layak di hadapan Tuhan tetapi

diselamatkan oleh karena kasih karunia Allah.

Kita harus memahami bahwa hati Tuhan ada bagi orang-orang berdosa. Ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani seseorang dan seseorang itu kita pandang sebagai orang yang sangat jahat dalam hidupnya atau bahkan mungkin berlaku jahat terhadap kita, apakah kita menolak untuk melayani orang itu? Apakah kita justru mengharapkan orang itu binasa di dalam dosa-dosanya? Bila demikian, maka kita sedang mencoba menjadi "hakim" bagi dengan menjatuhkan hukuman "berdosa dan layak binasa" padahal Allah mengasihi orang itu dan hati Tuhan adalah agar orang itu merespon kasih karunia Allah dan diselamatkan.

Kita harus menyadari bahwa kita sendiripun sesunguuhnya tidak layak di hadapan Tuhan, kitapun orang-orang berdosa yang seharusnya binasa oleh karena dosa-dosa dan kejahatan kita dan hanya oleh kasih karunia-Nya kita dapat merespon Allah dan diselamatkan. Maka kita seharusnya bersyukur bila orang yang jahat itu akan diselamtkan oleh Tuhan dan lebih bersyukur lagi bila kita yang dipanggil Tuhan untuk memberitakan keselamatan itu baginya. Hati Tuhan untuk orang-orang berdosa diselamatkan, maka kita harus memandang sebagai sebuah kehormatan bila kita dipanggil untuk memenangkan orang-orang itu bagi kerajaan-Nya.