Pages

27 May 2018

Mengampuni Yang Tak Mungkin Diampuni

Artikel Khusus - Minggu, 27 Mei 2018
Pernahkan Anda dikecewakan? disakiti? ditipu? dihianati? dirugikan? dilukai? dan lain sebagainya. Apakah yang Anda lakukan terhadap mereka? membalasnya? membencinya? menjauhinya? dan lain sebagainya. Tetapi pernahkan Anda berpikir untuk mengampuninya? Tidak pernah?

Mengampuni memang akan jauh lebih mudah bila akibat dari kesalahan itu tidak lah terlalu besar. Ketika kerugiannya sangat ringan, ketika hati ini tidak terlalu terluka dan ketika tidak ada hal yang fatal terjadi sebagai konsekuensinya. Tetapi mengampuni akan jadi sangat sulit ketika akibat dari kesalahan orang itu begitu besar dan menimbulkan luka di hati yang sangat mendalam.

Bila dirugikan seratus ribu, spertinya akan jauh lebih mudah untuk diampuni tetapi ketika dirugikan sekian milliar, tampaknya akan sangat berat untuk mengampuni. Ketika pasangan kita melirik orang lain mungkin akan lebih mudah untuk diampuni tetapi bila pasangan kita telah tidur dengan orang lain (berzinah), tampaknya juga akan sangat sulit untuk mengampuni. Bahkan, saudara kandung menjadi sulit mengampuni ketika telah terjadi perebutan harta warisan yang sangat besar. Situasi-situasi sulit seperti ini memang bisa merubah teman bahkan saudara menjadi musuh.

Tetapi sesungguhnya, apapun yang menjadi situasinya setiap orang percaya harus tetapi bisa mengampuni. Selain karena itu adalah kehendak Tuhan, riset kesehatan telah membuktikan bahwa hati yang tidak dapat mengampuni justru akan membuat orang tersebut menjadi stress dan tekanan darah serta jantung menjadi naik. Sebaliknya, hati yang mengampuni akan meningkatkan kesehatan kita serta menolong mempercepat kesembuhan. Hati yang mengampuni akan mengurangi rasa sakit, depresi dan kemarahan.

Memang tidak mudah untuk mengampuni. Umumnya kita justru ingin membalasnya, setimpal atau lebih berat dari yang orang perbuat kepada kita. Kita menjadi marah dan menjadi pahit karenanya. Teapi Alkitab dengan jelas berkata di dalam Amsal 25:21-22 berkata:

"Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.

Ketika kita lebih memilih untuk membalas perbuatannya, Alkitab justru meminta kita untuk membalasnya dengan kebaikan demi kebaikan. Ingatlah, Tuhan Yesus juga telah memberikan contoh kepada kita ketika di kayu salib Ia menyatakan pengampunan kepada orang-orang yang menyalibkannya.

Mengampuni juga sangat penting untuk hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Bagaimanakah kita dapat datang kepada Tuhan jika kita memiliki permusuhan dengan orang lain? Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita demikian di dalam Matius 6:12 "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;" dan di dalam Matius 5:23-25 " Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

Orang percaya tidak punya pilihan lain selain mengampuni, ini memang tidak mudah tetapi jangan izinkan hati yang tidak mengampuni ini justru menghancurkan hidup kita dan hubungan kita dengan Tuhan. Mintalah anugerah Tuhan yang menolong kita dan memampukan kita untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita; apaun kesalahannya dan sebesar apapun konsekuensi dari kesalahannya itu baik secara materi maupun emosi.