Pages

05 May 2018

MENJADI KUAT DAN TIDAK TAWAR HATI

Renungan Harian - Yosua mengambil alih kepemimpinan Musa, pemimpin yang sudah menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir dan menjelajahi 40 tahun perjalanan di gurun pasir. Bangsa Israel memasuki tahapan baru memasuki tanah perjanjian, merebut tanah Kanaan, bukan periode yang mudah.

Pesan Tuhan jelas kepada Yosua, pemimpin baru ini; Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu? Bukan himbauan, bukan nasihat, tetapi perintah! Bukan perintah untuk kumpulkan kekuatanmu, pikirkan strategimu, pelajari kelemahan musuhmu, ingat baik-baik apa yang sudah dilakukan Musa, cara-cara dia menangani Bangsa Israel, rencanakan baik-baik langkahmu! Tetapi kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Hati yang menjadi pusat kehidupan Yoshua sebagai pemimpin. Hati yang mendorong tindakan dan menguasai pemikiran Yoshua, hatimu perlu kuat dan teguh!

Menghadapi penduduk Kanaan, kesulitan yang akan dihadapi menguasai tanah perjanjian, jangan kecut dan tawar hati? Bagaimana tidak kecut jika mereka melihat kota-kota besar dan kubu-kubunya sampai ke langit? Orang-orang itu lebih besar dan tinggi dari pada mereka? (Ul 1:28). Bagaimana mereka tidak tawar hati? Belum lagi membayangkan Bangsa Israel yang tegar tengkuk! Apa yang harus menjadi dasar bagi Yoshua untuk tidak kecut dan tawar hati? Tuhan mengingatkan, “Tuhan, Allahmu akan menyertai engkau, ke manapun engkau pergi!” Itu cukup. Allah lah yang akan menjadi sumber kekuatan, Dialah yang menyertai, itulah yang harus meneguhkan hati Yoshua.

I Pet 4:11b mengingatkan, “.. jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”

Siapa yang terutama dan harus dimuliakan? Kristus. Di dalam Dialah seluruh janji Allah terpenuhi. Di dalam Dialah tersedia kekuatan, hikmat dan kasih. Dalam pelayan, dalam pekerjaan, dalam kehidupan ini, lakukanlah segala sesuatu dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah. Apa tujuannya? Supaya tidak bisa sedikitpun kita berbangga, itu karena aku pintar, itu karena aku mampu, itu karena aku baik…. Tujuan Allah adalah agar Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Kristus.

Apa yang membuat kita lemah dan tawar hati? Banyak sekali! Kita merindukan kesempurnaan, kita merindukan sesuatu yang teratur, indah, baik dan harmonis. Namun kenyataannya? Misalanya kita berada di sebuah sekolah kristen, kita bertanya-tanya mengapa pemimpin itu demikian? Mengapa teman sekerja itu begitu? Saya tidak diperhatikan, ini sekolah Kristen? Keputusannya kok begitu, di mana kasihnya? Cara berkomunikasinya itu lho… masa orang Kristen demikian? Kamu sudah diajar Firman Tuhan dari kecil, masih begitu sikapnya? Kapan anak-anak ini berubah? Kapan sekolah ini bisa lebih baik? Yang saya lakukan ini ada gunanya ga sih, kok tidak ada perubahan juga? Daftar ini masih bisa panjang dibuat…. Ada terlalu banyak kekecewaan, ketidaksempurnaan, juga kesulitan dari luar yang bisa menyusup dan membuat hati kita kecut, tawar hati dan gentar untuk terus berjalan.

Biarlah kita berdiam dan merenung, dimana harusnya kita letakkan pengharapan, kekuatan, dan sukacita kita? Bukan pada orang lain, bukan pada situasi, pemimpin atau sistem. Tetapi pada Kristus! Hanya Dialah yang harus memandu hati, pikiran dan tindakan kita. Sehingga walaupun kesulitan itu tetap ada, penderitaan bisa masih sama, tetapi kita kuat dan teguh di dalam Dia, sehingga akhirnya kita berkata, bukan saya… Dia yang menguatkan, Dia yang menyertai saya di setiap langkah hidup saya, segala kemuliaan bagi Dia! All for Jesus…..