Pages

10 June 2018

10 Hal Yang Tidak Disukai Isteri Bila Dilakukan Suami

Artikel Khusus - Pernikahan bahagia tentu menjadi impian semua orang. Tetapi untuk bahagia tentulah tidak mudah karena pernikahan adalah bersatunya dua pribadi yang benar-benar berbeda; berbeda secara natural pria dan wanita, berbeda hati dan perasaan, berbeda cara pandang, berbeda keinginan dan berbeda dalam banyak hal. Sebab itu untuk bahagia tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun bukan berarti tidak mungkin, dua orang berbeda hanya bisa menjadi satu ketika keduanya menyatukan diri dalam kebenaran yaitu firman Tuhan. Hanya di dalam kebenaran firman Tuhan dua insan yang benar-benar berbeda itu dapat menjadi satu.

Dengan berlandaskan kebenaran firman Tuhan, mari kita melihat 10 hal yang tidak sukai isteri bila dilakukan oleh suami.

Pertama, isteri tidak senang bila suami tidak mau mendengarkan dulu.

Pada umumnya pria memang tidak suka bertele-tele. Bila berbelanja saja misalnya, pria tidak akan menghabiskan waktu lebih lama dari wanita untuk memutuskan mana yang akan dibeli. Demikian juga dalam berkomunikasi. Isteri ingin mencurahkan isi hatinya, mungkin kegembiraan yang ia rasakan ataupun pergumulan berat yang sedang dihadapi, suami biasanya tidak ingin mendengarkan terlalu panjang, jadi baru sedikit saja suami mendengarkan cerita isterinya, suami akan langsung mengatakan "Ok, iya saya sudah tahu maksudnya... jadi begini.. begini... dan begini" atau "Ok, itu masalah mudah, begini solusinya, begini... begini... dan begini..." Padahal, bagi isteri, ini bukan soal menemukan solusi saja atas masalah yang dihadapi, tetapi yang lebih mendasar adalah isteri ingin mencurahkan seluruh isi hatinya, baik itu kegembiraannya mau kesedihannya. Jadi para suami harus dengan sukarela dan sukacita untuk menyediakan telinganya mendengarkan secara utuh apa yang akan disampaikan isterinya. Isteri tidak senang bila suami langsung "memotongnya" dan coba jadi "hero" dengan menjelaskan solusinya a-z. Buatlah isteri kita senang, dengarkanlah seutuhnya dulu, baru sampaikanlah pendapat anda.

Kedua, isteri tidak senang bila suami tidak memberikan waktu untuknya.

Seorang suami yang pulang bekerja tentu akan merasakan kelelahan fisik yang luar biasa. Tetapi pilihan untuk langsung tidur setibanya di rumah bukanlah pilihan yang bijak. Sekalipun merasakan begitu lelah, berikanlah waktu dan kumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya untuk bisa bersamanya, berbicara dengannya, bercanda dengannya, menikmati jam-jam yang ada dengan tertawa terbahak-bahak bersama. Itu akan membuat seorang isteri senang dan bahagia. Demikian juga bila di akhir pekan, sekalipun seorang suami juga membutuhkan "waktu pribadi" menyenangkan dirinya dengan hobinya, menghabiskan seluruh akhir pekan hanya dengan memuaskan diri hobinya seperti memancing atau bermain playstation bukanlah pilihan yang bijak dan itu membuat isteri tidak senang. Memang ada waktu juga untuk menyenangkan diri dengan hobinya, tetapi suami harus tetap punya waktu dan tenaga untuk bisa bersama-sama isterinya, menikmati akhir pekan berdua atau bersama dengan anak-anak. Betapa bahagianya seorang isteri bila suami selalu memberikan waktu untuk isteri dan anak-anaknya.

Ketiga, isteri tidak senang bila suami tidak pernah memberikan perhatian dengan pujian kecil.

Ketika masih berpacaran, sang pria pasti senang mengumbar "kata-kata gombal" bagi kekasihnya. Engkau cantik sekali, rambutmu indah, pakainmu serasi sekali, terima kasih sudah hadir dalam hidupku, dan lain sebagainya. Memang seorang wanita senang sekali dengan hal itu (jika memang disampaikan dengan tulus) tetapi setelah menikah, seringkali hal itu justru ditinggalkan dan dianggap sudah tidak penting lagi. Padahal wanita itu tidak berubah, baik dulu waktu masih pacaran dan terlebih lagi sudah menikah, wanita tetap membutuhkan pujian dan sanjungan kecil dari suaminya. Pujilah isteri kita dengan mengatakan "Terimakasih isteriku, masakanmu enak sekali" (sekalipun mungkin dirasakan agak terlalu asin) "Aku senang dengan dandananmu hari ini, indah sekali" (tapi kalau area ini harus benar-benar sesuai yah, "kritiklah dengan baik bila memang sebenarnya tidak bagus agar tidak malu ketika sudah keluar rumah). Ada banyak pujian yang kita dapat berikan pada isteri kita, mereka akan senang sekali dan semakin bersemangat menjalani hari-harinya bila suami dengan tulus dan konsisten memberikan pujian-pujian kecil.

Keempat, isteri tidak senang bila suami pulang membawa serta stress dalam pekerjannya.

Bekerja memang tidak mudah, ada banyak tantangan dalam pekerjaan yang membuat suami menjadi stress oleh karena tuntutan deadline pekerjaan atau permasalahan dengan rekan kerja. Tetapi isteri yang telah ditinggal seharian menanti suaminya pulang dengan wajah senyum gembira. Itu akan membuatnya senang, tetapi pulang dengan wajah yang begitu kusut akan membuat isteri menjadi kehilangan semangat untuk bertemu dengan suaminya. Pulanglah dengan wajah senyum gembira, bawalah keceriaan pada isteri dan bila sudah tepat waktunya, barulah ceritakan apa yang menjadi permasalahan dan pergumulan yang membuat kita menjadi begitu tertekan. Tetapi jangan awali perjumpaan dengan isteri dengan wajah murah, kusut dan tidak bahagia.

Kelima, isteri tidak senang bila harus "berperang" untuk mendapatkan perhatian suami.

Banyak yang membutuhkan perhatian kita. Pekerjaan, isteri, anak-anak, diri kita sendiri dan lain sebagainya. Suami harus tahu prioritas yang benar untuk memberikan perhatiannya. Yang penulis direkomendasikan adalah jadikan Tuhan sebagai prioritas pertama, kemudian isteri barulah anak-anak. Setelah itu hal-hal lain seperti pekerjaan maupun hobi kita. Dengan prioritas ini, suami akan tahu kepada siapa dia seharusnya memberikan perhatiannya terlebih dahulu. Antara isteri dan anak-anak, isteri harus lebih dulu mendapatkan perhatian kita, sangatlah berat bila isteri "harus bersaing" dengan anak-anak untuk mendapatkan perhatian kita. Komunikasikanlah hal ini dengan sebaik-baiknya di dalam keluarga sehingga semua mengerti apa yang terjadi. (bisa juga, dengan kesepakatan, isteri justru mengalah agar suami lebih mendahulukan anak-anak dalam mendapatkan perhatian)

Keenam, isteri tidak senang bila suami enggan berbagi cerita.

Sebuah hubungan suami isteri adalah hubungan dua arah. Sekalipun secara alami wanita memang jauh lebih banyak berbicara dibandingkan pria, tetapi suami juga dituntut untuk dapat berbagi cerita dengan isterinya. Suami yang "pelit" berbicara dengan isterinya baik itu mengenai pekerjaannya atau apapun yang dialami akan menjadi masalah besar bagi hubungan suami isteri. Sekalipun wanita memang lebih banyak berbicara, tetapi mereka juga ingin mendengarkan kisah-kisah suaminya. Bila suami memiliki kesulitan untuk bercerita panjang lebar, suami harusnya mulai membicarakan hal itu dan menggali bersama solusi untuk hal itu. Seorang isteri tidak senang bila suaminya enggan berbagi kisah, sebab itu mulailah "menyiapkan" cerita sebelum akan bertemu dengannya sepulang dari kantor.

Ketujuh, isteri tidak bila suami memainkan peran superman.

Suami isteri adalah satu, maka hal itu perlu diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan rumah tangga. Termasuk dalam hal membuat keputusan baik itu perencanaan keuangan, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak-anak dan berbagai hal yang harus diputuskan dalam rumah tangga. Isteri akan sangat senang sekali bila dalam semua hal itu mereka juga dilibatkan untuk ikut memikirkan dan memutuskan bersama. Bila suami memainkan peran superman dan mengatasi semuanya sendiri tanpa melibatkan isterinya, ini akan membuatnya sangat sedih dan merasa "tidak dianggap" sebagai bagian yang penting dalam segala perencaan rumah tangga. Sekalipun suami memang dapat mengatasinya sendiri, tetaplah libatkan isteri untuk berdiskusi, ini akan membuatnya merasa dihargai oleh suaminya dan tentu akan membuatnya bahagia.

Kedelapan, isteri tidak senang bila dibanding dengan wanita lain atau isteri orang lain

Seorang isteri pastinya tidaklah sempurna (demikian juga suami, tidak sempurna). Atas ketidaksempurnannya itu, suami harus tetap dapat menerima dan tetap mengasihinya. Suami dapat menolongnya untuk semakin hari menjadi semakin baik tetapi membandingkannya dengan wanita lain atau isteri orang lain bukan ide yang bijaksana. Setiap orang sesungguhnya unik, demikianlah Tuhan telah menciptakannya. Maka tidak ada orang yang akan benar-benar sama dalam berbagai hal. Mengatakan "Kamu seharusnya seperti wanita itu atau seperti isteri orang itu" akan melukai hatinya. Karena itu berarti kita tidak menerima mereka apa adanya dan itu justru menunjukkan bahwa kita "tidak puas" dengan isteri kita dan telah menemukan kepuasan itu pada diri orang lain. Ini sangat berbahaya. Terimalah dan tolonglah untuk menjadi lebih baik, tapi jangan pernah membandingkannya dengan wanita lain atau memintanya untuk menjadi seperti orang lain. Biarlah isteri kita tetap menjadi pribadi aslinya sebagaimana Tuhan telah menciptakannya unik, indah dan berharga di mata Tuhan.

Kesembilan, isteri tidak senang bila suami tidak menunjukkan perhatian dengan membantunya di rumah.

Bila suami bekerja dan isteri sepenuhnya di rumah, seorang isteri akan sangat senang sekali bila suaminya pulang bekerja dan juga masih tetap mempunyai tenaga untuk membantunya dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, membersihkan meja makan atau sekedar merebus air minum. Baginya itu adalah bentuk perhatian yang nyata dan bukan sekedar kata-kata manis di mulut. Memang suami telah begitu lelah setelah pulang bekerja, tetapi usahakanlah untuk masih mempunyai tenaga untuk membantunya di rumah, itu akan sangat menyenangkannya dan membuatnya tidak merasa seperti "babu" di rumah yang mengerjakannya sendiri. Sekecil apapun bantuan kita para suami kepada isteri, akan tetap membuatnya bahagia dan merasa begitu diperhatikan.

Kesepuluh, isteri tidak senang bila suami tidak bisa menjadi pemimpin rohani bagi rumah tangganya.

Tuhan telah menjadikan pria seorang pemimpin, kepala rumah tangga dan imam bagi keluarganya. Maka suami harus benar-benar melakukan peran yang telah diberikan Tuhan itu. Seorang isteri tidak senang bila harus menjadi pemimpin rohani bagi keluarganya, sekalipun demikian, sesungguhnya itu tidaklah benar dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka suami harus benar-benar membangun hubungan yang intim dengan Tuhan sehingga dapat memimpin keluarganya untuk mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan. Suami tidak boleh memberikan peran ini kepada isterinya, peran yang lain dapat berbagi tetapi dalam hal menjadi pemimpin rohani bagi keluarganya, itu mutlak peran suami dan tidak dapat digantikan.