Pages

18 June 2018

Membangun Kesatuan

Renungan Harian - Senin, 18 Juni 2018. Membangun Kesatuan
Nimrod (seorang pemberontak) adalah seorang yang melawan Tuhan tetapi ia membangun banyak kota (Kej 10:8-12). Ia juga yang membangun menara babel yang puncaknya sampai "ke langit"

Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

Kita dapat melihat bahwa Tuhan tertarik dengan unity.

Mana yang lebih mudah? Membangun unity atau membangkitkan orang mati? Untuk menjawab ini, kita dapat melihat bahwa Tuhwn Yesus berdoa TIGA KALI untuk UNITY sedangkan untuk membangkitkan orang mati, Tuhan Yesus berdoa SATU KALI untuk membangkitkan Lazarus. Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata lebih mudah mrmbangkitkan orang mati daripada membangun unity.

Membangun unity dengan sesama dapat dimulai dengan mulai memperhatikan sesama, melihat kebaikan-kebaikan mereka dan bukan fokus pada kekurangan mereka. Membangun unity dalam keluarga harus dimulai dengan kasih yang dari Tuhan, orang tua dengan anak dan begitu sebaliknya. Rasanya uang yang dimiliki setinggi gunung menjadi tidak berarti bila kehilangan hubungan antara orang dan anak dan begitu sebaliknya.

Sebuah artikel menuliskan satu orang ibu dapat merawat dan membesarkan sepuluh orang anak tetapi bisakah sepuluh orang anak melakukan hal yang sama?

Bila kita berlaku kurang hormat dengan orang tua kita dan anak-anak kita melihat hal itu, anak-anak akan belajar dari hal itu dan akan melakukan hal yang sama kepada kita. Seorang nenek yang makannya begitu berantakan dan kotor ditempat di meja yang terpisah oleh orang tuanya dan cucunya memperhatikan hal itu. Suatu hari si cucu membuat gambar susana di ruang makan. Dia menggambar dia makan bersama dengan anak-anaknya dan membuat satu meja terpisah untuk papa atau mamanya. Ketika papa dan mamanya menanyakan mengapa ia membuat satu meja yang terpisah, anaknya ini mengatakan bahwa itu untuk papa atau mamanya dikemudian hari. Hal ini membuat mereka sadar dan berikutnya menyertakan neneknya di meja makan yang sama walau makan dengan berantakan dan kotor.

Unity kita dengan Tuhan dimulai oleh Tuhan yang ada pencipta langit dan bumi turun ke bumi menjadi manusia. Berjalan di muka bumi ini dan menyatakan kasih dan kuasanya. Dan pada puncaknya memberikan dirinya menjadi korban yang sempurna untuk penebusan dosa agar kita yang terhilang, yang berdosa, yang terhina, yang hancur ini diselamatkan dan menjadi berharga dan mulia bagi Dia. Kematian-Nya di kayu salib menjadikan segala sesuatunya baru. Dia mengembalikan pengharapan kita yang hilang dan barangsiapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.