Pages

22 June 2018

Membedakan Yang Benar dan Salah

Renugan Harian - Jumat, 22 Juni 2018. Membedakan Yang Benar dan Salah
Bagaiamanakah kita dengan bijak dapat membedakan antara benar dan salah serta memiliki karakter yang kuat untuk mengambil tindakan yang tepat?

Salah satu dari sekian banyak cara untuk membantu kita agar mampu membedakan yang benar dari yang salah adalah dengan memiliki peraturan-peraturan dan panduan-panduan perilaku yang bisa diterapkan. Penting kita memiliki peraturan dan panduan tersebut untuk memastikan terjadinya suatu kehidupan yang teratur dan positif.

Jika kita bertanya kepada orang-orang apa yang membedakan benar dan salah di dalam Alkitab; kebanyakan orang akan menjawab Sepuluh Perintah Allah. Itu hanya sebagian benar.

Di dalam Perjanjian Lama dan Baru kita menemukan bahwa ada satu perintah yang esensial; diekspresikan dalam dua pernyataan: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu..... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Bagian pertama dari Perintah Agung ini “Kasihilah Allahmu”; memiliki beberapa batasan, contohnya: “Jangan ada Allah lain”. Mengapa? Karena mengasihi Allah artinya kita akan tergantung kepada Dia dalam segala hal; Ia satu-satunya tempat perlindungan kita.

Tiap butir dari Sepuluh Perintah Allah memberikan batasan jelas mengenai Perintah Agung Kasih “ Kasihi Allah; Kasihi Manusia.” Jadi “JANGAN mengabaikan/ menyalahgunakan hari Sabat” – artinya kita tidak diciptakan untuk bekerja 24 jam sehari 7 jam seminggu; bila kita seperti demikian, kita sedang menyatakan bahwa Allah bukanlah tempat kita bergantung; melainkan, kita mau bergantung kepada diri kita sendiri.

Ketika kita perhatikan bagian dari Perintah Agung yang berhubungan dengan mengasihi orang lain, kita dapati batasan “JANGAN berzinah”. Jadi Allah tidak menetapkan semua cara bagaimana kita bisa mengasihi satu dengan yang lain. Ia membiarkan kita memilih dari begitu banyak cara yang tidak terbatas; satu batasan adalah untuk menghindari hubungan perzinahan. Jadi pengertian kita akan apa yang “Benar” sekarang jadi sangat luas, yaitu semua pikiran dan tindakan yang menunjukkan kasih kita kepada Allah dan kepada orang lain.

Bila kita melihat contoh dari Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) pemahaman kita mengenai “Bertindak Benar” menjadi lebih jelas. Seseorang yang sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko diserang, dirampok dan dibiarkan untuk mati. Seorang imam dan seorang Lewi melewati jalan tersebut namun tidak berhenti untuk menolong, mereka tidak melanggar peraturan atau hukum apapun, namun apakah mereka “bertindak benar?”

Orang Samaria, sebaliknya, “memiliki belas kasihan”. Ia berhenti, merawat luka-luka korban, membawa dia ke tempat yang aman dan menanggung kelanjutan pengobatannya. Tidak ada buku peraturan manapun yang mengatur dia untuk bertindak demikian; perilakunya juga bukan suatu bentuk ketaatan dari butir manapun di dalam Sepuluh Perintah Allah. Ia meresponi “Perintah Agung”—Mengasihi Allah, mengasihi manusia.

Yesus menyimpulkan dengan dua pernyataan: Orang yang melakukan yang benar adalah orang yang menunjukkan belas kasihan.

Pergi dan Perbuatlah demikian. Hanya melalui pemahaman anugerah agung yang begitu murah hati maka kita bisa tahu apa yang benar dari yang salah dan memiliki karakter untuk hidup di dalam kebenaran itu.