Pages

26 August 2018

5 Warning dari Orang Orang Farisi

Artikel Khusus - Minggu, 19 Agustus 2018. 5 Warning dari Orang Orang Farisi
Adakah yang dapat kita pelajari dari orang-orang Farisi? Ada, namun bukan untuk dilakukan melainkan untuk tidak kita lakukan sebagai orang percaya sejati. 5 hal yang menjadi warning bagi kita dari orang-orang farisi ini didasarkan pada Matius 22:15-22.

Pertama, jangan membuat kesepakatan jahat

(15) Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.

Orang-orang farisi melakukan yang hal baik berunding untuk sebuah kesepakatan. Namun kesepakatan yang mereka buat bukanlah hal yang baik untuk saling membangun atau menolong tetapi untuk menjatuhkan. Dalam hal ini, mereka bersepakat untuk menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan sehingga Yesus dapat disalahkan dan dihukum.

Sebagai orang percaya sejati, seharusnya kita berunding untuk membuat sebuah kesepakatan yang baik untuk saling membangun dan menolong. Apalagi berunding dan bersepakat untuk menjatuhkan pemimpin di dalam gereja, atau seseorang di dalam keluarga, pekerjaan dan di tempat-tempat lain.

Kedua, jangan hanya sekedar tahu tapi tidak percaya

(16) Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.

Orang-orang farisi berkata "Gurum kami tahu, ..." itu adalah baik dan benar. Tetapi orang-orang farisi berhenti hanya sampai pada "tahu" namun tidak percaya kepada Yesus yang mengajar jalan Allah, mereka justru sedang berusaha menjerat Yesus dengan pertanyaan mereka. Sebagai orang percaya sejati, kita juga tidak boleh hanya berhenti pada "tahu" Yesus itu Tuhan, kita harus sampai pada percaya dan taat kepada-Nya. Kita tidak boleh hanya berhenti pada "tahu" firman Tuhan tetapi kita juga harus melakukannya dan hidup sesuai dengan firman Tuhan. Kita tidak boleh berhenti pada tahu "doa" kita harus benar-benar menjadikan doa sebagai nafas hidup kita.

Ketiga, fokus kita bukan pada hukum, perbuatan ini dan itu, melainkan kasih karunia Tuhan

(17) Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"

Orang-orang farisi fokus pada hal-hal boleh atau tidak. Mereka bertanya perihal boleh atau tidak membayar pajak. Seperti orang muda yang kaya datang pada Yesus menanyakan apa saja yang harus diperbuat agar beroleh keselamatan. Tantangan yang Yesus berikan pada anak muda itu menunjukkan pada dirinya sendiri bahwa tidak mampu untuk berbuat agar beroleh keselamatan. Keselamatan kita adalah kasih karunia Tuhan, kita bersyukur atas kasih karuniaNya ini (Efesus 2:8-9). Orang-orang farisi selalu fokus pada perbuatan ini dan itu, peraturan ini dan itu sehingga merekapun menetapkan peraturan sabat yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Keempat, minta Tuhan agar terus memperbaharui hati kita dengan kebenaranNya

(18) Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Orang-orang farisi hatinya penuh dengan kejahatan. Benarkah demikian? Yesus sendiri yang mengatakannya pada ayat 18 ini. Apakah hati kita juga penuh dengan kejahatan? Ya, hati kita ini penduh dengan keinginan dosa (Matius 15:19) sebab itu kita harus memenuhi hati kita dengan kasihNya, firmanNya, kebenaranNya dan hari demi hari diperbaharui sehingga hati ini penuh dengan apa yang benar dan mulia dan berkenan kepadaNya. Dapatkah kita memiliki hati yang benar? Tidak dengan kekuatan kita sendiri, hati kita hanya dapat diperbaharui jika kita terus melekat dengan Tuhan.

Kelima, jangan mengeraskan hati atas lawatan Tuhan

(22) Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Sekalipun orang-orang farisi datang untuk menjerat Yesus, Tuhan Yesus tetap "meladeni" mereka. Dengan jawaban yang Yesus berikan, seharusnya semakin meneguhkan "tahu" mereka menjadi percaya kepada Yesus. Mereka "sedang dilawat" Tuhan melalui jawabanNya itu, tetapi sekalipun demikian, mereka tetap hanya sekadar "tahu" tetapi tidak menjadi percaya, mereka pada akhirnya meninggalkan Yesus lalu pergi.

Ketika kita mengalami lawatan Tuhan, Tuhan berbicara tegas dan keras kepada kita melalui firmanNya agar mengubah dan memulihkan kita, janganlah kita mengeraskan hati dan tetap meninggalkan Yesus lalu pergi. Marilah kita beralih dari "tahu" menjadi percaya dan taat kepadaNya.