Pages

12 August 2018

Jangan Takut Percaya Saja

Arikel Khusus - Minggu, 12 Agustus 2018. Jangan Takut Percaya Saja
Kita semua saat ini hidup di masa yang unik, masa setelah Tuhan Yesus disalibkan dan bangkit; dan masa sebelum kedatangan Tuhan Yesus

Inilah masa di mana gereja dimulai, dianiaya, bertumbuh, berkembang, bertambah dan diundang oleh Allah, sebagai bangsa yang terpilih dan telah dibenarkan dan dikuduskan oleh Allah, untuk terlibat di dalam karya penebusanNya di dunia; membawa kabar keselamatan dan menebus praktikpraktik di dunia yang terbelenggu dosa.

Dalam Markus 13, Yesus telah menyatakan akan adanya masa akhir jaman dan bahkan memperingatkan kita berulangkali untuk berjaga-jaga. Banyak tanda-tanda akhir jaman yang telah terjadi saat ini, contohnya: bangsa melawan bangsa (13:8) dan banyaknya ajaran-ajaran palsu yang nampaknya membawa kepada kebaikan dan kebenaran (13:22). Mungkin banyak diantara kita yang merasa bahwa semakin tahun keadaan bukannya bertambah mudah, namun bertambah sulit dan dunia bertambah kacau. Kita menjadi gentar akan tantangan di era digital dan bertanyatanya bagaimana kita membekali diri kita dalam dunia yang menawarkan begitu banyak pilihan; kita menjadi gentar akan masa depan. Markus 5 menceritakan mengenai Yairus, kepala rumah ibadat yang putrinya hampir meninggal. Begitu kasihnya Yairus pada putrinya, sebagai seorang lelaki dan kepala rumah tangga (bahkan kepala rumah ibadat!) ia tersungkur di depan kaki Yesus! Ia menyadari bahwa ia tidak berkuasa dan tidak memiliki kontrol atas sebuah kehidupan, bahkan kehidupan putri yang dikasihinya. Ia kemudian mencari Yesus yang kata orang dapat membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit. Ia memohon (23) "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Yesus menyanggupi permintaan Yairus, namun Ia yang hendak pergi ke rumah Yairus terinterupsi oleh seorang wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun (ayat 25- 34). Bagi Yairus waktu ini mungkin adalah waktu menanti yang terlama dalam hidupnya. Kehidupan putrinya bergantung pada Yesus dan ia berpacu dengan waktu kematian. Sama seperti Yairus, mungkin kita sedang dalam penantian yang nampaknya tak kunjung berakhir: kapan kesulitan akan berlalu, kapan penantian akan berakhir, kapan ada jawaban dan apa jawabannya, kapan kondisi yang lebih baik akan terjadi,dll. Saat tekanan-tekanan semakin bertubi-tubi (ayat 35), Yesus berkata kepada Yairus (36): "Jangan takut, percaya saja!"

Markus 13: 30 mencatat Aku (Yesus) berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.Pernyataan ini adalah sebuah janji Allah yang memberi kepastian. Sebagai bangsa pilihan Allah, Allah akan membawa kita melalui ini semua. Ayat selanjutnya (31) juga mencatat dan menguatkan janji Allah tersebut: Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Artinya, segala hal yang nampaknya menelan air mata dan menimbulkan rasa sakit secara psikis dan fisik tidak akan berlangsung selama-lamanya. Allah akan mempersingkat waktunya karena orang-orang pilihannya (ayat 20) dan kita akan bisa bertahan melalui semua ini. Our faith won’t run out. Tribulation will end before we end; we can hold fast to and rest assure in His promises which will never pass away.

Saat datang kepada Yesus, Yairus tidak tahu anak perempuan yang dikasihinya akan meninggal atau hidup; ia datang kepada Yesus dengan pengharapan dan kepercayaan bahwa Yesus (yang kata orang) dapat menyembuhkan putrinya. Akhirnya Yairus mengalami kuasa Yesus sendiri, bukan dari kata orang saja: anak perempuannya benar pulih. 1 Yohanes 3:1-3 menyatakan: Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anakanak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Alkitab telah menyatakan bahwa kita, yang berharap kepadaNya, adalah anak-anak Allah. Anakanak Allah akan mengalami berbagai-bagai kesulitan dalam dunia ini karena dunia tidak mengenal Allah. Karena itu, sudah seharusnya kita tidak perlu terkejut dan bahkan mengharapkan dan mengantisipasi akan adanya kesulitan dan penolakan selama kita hidup dalam dunia ini!

Bayangkan seorang anak yang ayahnya seorang tentara yang pergi berperang. Si anak akan berulang tahun tanpa ayah, akan melewati kesulitan di sekolah tanpa ayah, berada di rumah tanpa ayah, bermain tanpa ayah, dll. Dia mungkin akan merasa sendiri, kesepian, kesulitan, menangis sendiri, dan berusaha mengatasi semuanya sendiri; namun dia akan menjadi anak yang kuat. Saat ayahnya kembali, karena ayah dan anak saling mengenal dan saling mengasihi, pertemuan kembali ini menjadi sebuah saat yang sangat mengharukan. (lihat video: https:// www.youtube.com/watch?v=8mQN4WRFxQ0) Ya, kehidupan tanpa ayah memang sulit, namun berkumpul kembali bersama dengan ayah menjadi sebuah momentum yang begitu berharga, menjadi saat di mana semua air mata kesulitan dan kerinduan seperti terbayar.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bagaimana keadaan kita kelak, tetapi kita sungguh tahu bahwa setelah semuanya ini berlalu kita akan ditransformasi untuk menjadi serupa dengan gambar anakNya, Yesus Kristus; dan kita akan bisa melihat Allah dalam keadaanNya yang sebenarnya. Akan ada sebuah reuni, pertemuan kembali dengan Allah, setelah semua kesulitan, penolakan, dan rasa sakit yang kita alami di dunia ini. Harapan kepada Allah menjadi kekuatan kita.

Sambil berjaga-jaga agar kita tidak tercemar di dalam dunia yang terbelenggu dosa, ki ta menant i -nant ik an pertemuan kembali dengan Allah. Percayalah bahwa pertemuan ini akan menjadi sebuah reuni yang indah dan penuh kemuliaan. Jangan takut, percaya saja!