Pages

31 August 2018

Pendidik Utama

Renungan Harian - Pada era milenial ini, urusan bekerja di kantor bukan lagi menjadi domainnya para pria atau suami melainkan para wanita atau isteri juga telah masuk pada dunia eksekutif dan tidak sedikit juga memegang peranan atau posisi penting di tempat pekerjaannya. Suami tentu masih tetap menjadi pencari nafkah utama di dalam keluarga dan dengan demikian akan memikul tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sekalipun isteri juga sibuk bekerja.

Dengan fakta bahwa para suami dan isteri yang sama-sama sibuk di dalam bekerja, maka menjadi pertanyaan penting dalam parenting adalah siapakah yang kemudian menjadi pendidik utama bagi anak-anak mereka?

Sebelumnya, tampaknya para suami sibuk mencari nafkah di luar dan isteri bersama-sama dengan anak-anak mereka di rumah dan dengan demikian sepertinya urusan mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada isteri dan suami hanya mendukung secara finansial. Pada saat ini, dimana suami dan isteri sama-sama sibuk bekerja dan bahkan pulang hingga sangat larut sekali sehingga tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anak, tampaknya urusan mendidik anak diserahkan kepada pihak ketiga. Pihak yang ketiga yang dimaksud adalah asisten rumah tangga, sanak saudara yang lain bila ada menumpang di rumah, guru di sekolah dan juga guru-guru di tempat les mereka. Pada masa-masa ini, kepada merekalah pendidikan anak-anak mereka diserahkan

Para kaum milenialis menganggap itu adalah hal yang wajar sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Tetapi apakah demikian yang dikehendaki oleh Tuhan? Apakah Tuhan menganugerahkan anak-anak kepada orang tua dan mempercayakan pendidikan itu kepada orang lain?

Amsal 1:8 "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu"

Melalui Amsal 1:8 ini, kita dapat melihat bahwa seorang anak harus mendengarkan didikan ayahnya dan ajaran ibunya. Itu artinya urusan mendidik dan mengajar anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang tua adalah tugas dan tanggung jawab orang tua itu sendiri. Baik ayah maupun ibu, sama-sama berperan penting untuk mendidik anak-anak mereka. Sekalipun ayah bekerja dan ibu di rumah, tidak berarti pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada ibunya dan demikian juga dengan sebaliknya. Bila ayah dan ibu juga sama-sama sibuk bekerja, tetap tidak memberikan alasan atau membenarkan tindakannya untuk mengabaikan pendidikan anaknya atau menyerahkannya kepada pihak ketiga.

Sedikit banyak, seorang asisten rumah tangga memberkan kontribusi bagi pendidikan anak. Seorang guru di sekolah, jelas memberikan pendidikan akademis, karakter maupun iman di sekolahnya dan para guru les juga mendidik dalam hal ketrampilan maupun kecerdasan untuk menguasai berbagai mata pelajaran. Memang orang tua terbatas untuk mendidik anak-anak mereka karena waktu dan juga karena kemampun akademis yang mungkin tidak lagi cukup memahami materi pelajaran anak-anaknya. Tetapi orang tua justru memegang pendidikan kunci bagi anak-anaknya karena ada banyak hal yang justru tidak mungkin didapatkan anak-anaknya di sekolah maupun di tempat kursusnya. Pendidikan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan menjadi area yang sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkannya. Sekolah terbatas pada area ini terlebih lagi tempat kursus maupun asisten rumah tangga. Ini adalah area yang besar bagi orang tua. Sebab itu Amsal 1:8 mengatakan bahwa seorang ayah mendidik dan seorang ibu mengajar. Terutama, ini berbicara tentang mendidik dan mengajar dalam kebenaran firman Tuhan.

Ulangan 6:7 juga menegaskan bahwa tugas pendidikan anak-anak sejatinya diberikan kepada para orang tua. Demikian ulangan 6:7 mengatakan "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

Ulangan 6:7 ini lebih lagi menegaskan bahwa orang tua harus dengan penuh kesabaran, tidak jemu-jemu, berulang-ulang mengajarkan anak-anaknya dan uga dalam segala situasi maupun tempat. Orang tua adalah pendidik sejati bagi anak-anaknya, maka sekalipun ayah sibuk bekerja dan ibu mungkin bahkan lebih sibuk lagi bekerja; ayah dan ibu tidak bisa melepaskan diri dari tanggungjawab utamanya sebagai pendidik dan pengajar bagi anak-anaknya.