Pages

02 September 2018

Bekerja Untuk Tuhan atau Diri Sendiri

Artikel Khusus - Minggu, 2 September 2018.
Bekerja Untuk Tuhan atau Diri Sendiri
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1 : 26).

Ketika merenungkan ayat di atas, saya diingatkan kembali bahwa bekerja adalah sebuah mandat, sebuah panggilan penuh dengan sukacita untuk memuliakan Tuhan melalui profesi. Itu artinya bekerja bukan paksaan, rutinitas, tekanan atau hanya untuk memuaskan keinginan saya.

Tetapi pada kenyataannya, setelah bertahun-tahun menjalani kesibukan dan rutinitas bekerja, terkadang kebenaran ini mulai terlupakan dan tertimbun tumpukan rutinitas kerja, saya mulai terjebak dalam jam kerja yang padat.

Panggilan yang tadinya penuh sukacita dan kerinduan memuliakan Tuhan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang melelahkan, menekan dan meresahkan. Saya tidak lagi bisa membedakan apakah saya bekerja dengan sungguh-sungguh untuk Tuhan atau saya kecanduan bekerja?

Workaholic atau kecanduan kerja adalah istilah yang ditujukan untuk seseorang yang sangat terikat pada pekerjaannya. Umumnya orang tersebut sulit lepas dari pekerjaannya, menganggap pekerjaan adalah satu-satunya tujuan hidup dan melupakan yang lain. Seseorang dengan kondisi seperti ini sama dengan orang yang kecanduan alkohol, minuman keras, games ataupun segala bentuk kecanduan yang lain.

Apakah saudara mengorbankan hal penting dalam hidup seperti keluarga, pelayanan, waktu doa, persahabatan, dll. karena waktu dan perhatian saudara habis untuk bekerja? jika itu yang terjadi saudara perlu memikirkan kembali tujuan, panggilan dan prioritas hidup Anda di hadapan Tuhan.

Beberapa hal praktis yang dapat dilakukan untuk tidak jatuh pada kecanduan kerja, yaitu :

1) Gumulkan kembali panggilan Tuhan dan Tentukan Prioritas

Ketika kita mulai tenggelam dalam banyaknya pekerjaan dan kesibukan, ambil waktu tenang Bersama Tuhan, berdoalah dengan sungguh-sungguh, gumulkan pribadi dengan Tuhan, untuk apa saudara dipanggil melayani dalam bidang profesi saudara? Apa yang Tuhan ingin saudara kerjakan? Apa sebenarnya yang benar-benar penting?

2) Bertumbuh dalam kerohanian 

Pertumbuhan relasi dengan Tuhan harus berbanding lurus dengan pertumbuhan relasi dengan sesama dan diri sendiri. Ketika kita memiliki relasi yang bertumbuh dengan Tuhan, Ia akan memampukan kita memahami panggilan dan tujuan- Nya bagi hidup kita, kita dapat melihat prioritas hidup dengan jelas sesuai dengan kaca mata Tuhan.

3) Luangkan waktu untuk keluarga dan sahabat

Banyak orang workaholic melewatkan kesempatan berharga dengan orang-orang terdekatnya demi pekerjaan. Terkadang hal ini terlihat rohani, karena kita terlihat mengutamakan pekerjaan Tuhan dibandingkan segala hal yang lain. Kita lupa bahwa Tuhan memakai kita menjadi saluran berkat yang memuliakan-Nya tidak hanya melalui profesi saja, tetapi juga melalui relasi yang bertumbuh dengan sesama dan Tuhan membentuk kita melalui komunitas.

Marilah kita kembali berefleksi, merenungkan kembali apakah kita menjalani panggilan profesi kita dengan bersukacita, bersyukur dan bekerja keras? Jangan terjebak pada kecanduan kerja yang menjauhkan kita dari tujuan Tuhan memanggil kita, menjadi saluran berkat dan memuliakan Tuhan.