Pages

16 September 2018

Kristus Sang Hikmat

Artikel Khusus - 16 September 2018
Kristus Sang Hikmat

Kita hidup di zaman yang “terlalu cepat dan terlalu banyak informasi yang kita terima dan sangat terlalu cepat terbaca (atau tergulir begitu saja dengan jari-jari di telpon genggam kita). Seolah-olah dengan banyaknya dan cepatnya informasi itu kita terima dan kita proses membuat kita langsung begitu saja menjadi ber”hikmat.”

Memang dalam kitab Amsal dikatakan “…hikmat berseru- seru…diatas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan…di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, iya berseru dengan nyaring…” (Amsal 8:1-3), namun apakah ini berarti hikmat begitu saja dapat kita peroleh dari tempat-tempat tersebut? Apakah hikmat juga berseruseru di group-group Whatsapp kita? Apakah dengan begitu banyaknya posting- an atau forward-an yang kelihatannya begitu “berhikmat” termasuk di dalamnya kisah-kisah inspiratif: baik itu dari seorang ibu-lah, seorang kakek tua, seorang hakim, seorang guru, dan bahkan dari kisah orangorang percaya; apakah setelah membaca segelintir informasi yang “banyak dan cepat” itu kita kemudian berpaling dari telpon genggam kita, menatap kehidupan dengan keyakinan yang penuh hikmat?

Saya kok semakin merasa diri saya semakin tidak berperasaan, semakin kosong, semakin tidak peduli akhir-akhir ini. Terlalu banyak O Tuhan! Group ini dan group itu memposting hal yang ituitu lagi, “ada sebuah kisah nyata…ini dan- itu”, “seseorang bertanya kepada jurnalis…”, “…seorang suami-istri…naik bus…melihat ada orang cacat…”, “Info datang dari Dokter Ahli beda ini-danitu…”, dan selalu diakhir dengan “semoga berguna”…”semoga bermanfaat”…” bagikan kepada yang membutuhkan”

Apakah ini cara mendapatkan Hikmat? Saya tentu juga sering terhibur kalau ada kisah-kisah lucu atau meme-meme yang kocak, tapi dengan semua kisah-kisah tersebut saya semakin kurang nyaman. Bukan karena kisahnya tidak inspiratif, tetapi karena begitu cepat saya baca atau saya scroll begitu saja dan tidak ada internalisasi dalam pikiran dan tubuh saya.

Di sinilah saya kemudian bersyukur dengan sebuah “ritual” atau sakramen yang ada di dalam gereja: Perjamuan Kudus! Apakah kita pernah dengan serius mengikuti sakramen perjamuan kudus? Ketika saya dan keluarga mengikuti perjamuan kudus setiap minggu pertama, kami tidak pernah bosan mengikutinya.

Apakah hubungannya perjamuan kudus dengan hikmat? Apakah hubungan hikmat dengan “mengingat” (rememberance)? Mari sama-sama kita temukan jawabanya di dalam 1 Korintus 1:18- 30 (Bacalah dengan tidak terburu-buru, dengan pelan sambil berdoa meminta Hikmat dari Tuhan) “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan." Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Di dalam perjamuan Kudus kita sedang mengingat sang Hikmat yang menjadi manusia, memecahkan tubuhnya bagi kita, dan dalam iman kita menerima roti dan memakan “hikmat” tersebut, menandakan sebuah “UNION WITH CHRIST” (union with wisdom), yang dalam kesemuanya ini dunia memandang kita dan mengatakan kita orang yang paling bodoh! Namun Kristus katakan ketika kita melakukan ini, kita sedang mengingat Dia (remember Him). Oh betapa agung berita injil yang kita terima, melampaui segala hikmat dunia. Dunia yang dalam kecepatan dan kelimpahan informasinya tidak dapat menggantikan sebuah momen sederhana yang begitu tenang, lambat, tidak terburu-buru dan begitu hormat. Mengingat dan memakan “hikmat”, meng-internalisasi hikmat Allah kedalam tubuh kita, sebuah peristiwa yang seharusnya menjadi kerinduan kita setiap saat.