Pages

03 December 2018

Para Gembala Yang Memuji dan Memuliakan Allah

"Maka kembalilah gembala gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat" (Luk. 2: 20).

Para gembala memuji dan memuliakan Allah. Ini adalah hidup yang teosentris. Dasar sukacita mereka tidak berasal dari kondisi hidup, melainkan perbuatan Allah. Memuji dan memuliakan Allah adalah ekspresi kasih kepada Dia. Ekspresi yang demikian disebabkan oleh hati yang dipenuhi oleh berita malaikat karena dengan mata sendiri, mereka melihat keselamatan dari Tuhan Yesus.

Setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus, kondisi kehidupan para gembala masih tidak berubah: seperti, istri dan anak, tempat tinggal, pekerjaan, teman-teman, ekonomi, tunjangan, tuan dan kambing dombanya. Semua hal itu tidak mengalami perubahan, tetapi hati mereka telah berubah.

Dengan hati yang baru itu mereka menjalani kondisi kehidupan yang lama. Hati yang baru telah membuat perubahan yang signifikan dalam hidup para gembala.

Dengan hati yang baru para gembala menghadapi berbagai macam kondisi kehidupan: dengan berani mereka menghadapi tantangan hidup; dengan penuh kasih mereka hidup bersama istri mereka; dengan sukacita mereka menggembalakan kambing domba; dengan ramah mereka menghadapi teman teman; dengan penuh ucapan syukur mereka menerima pemilikan; dengan penuh gairah mereka bersaksi bagi Dia; dengan pujian dan syukur mereka menerima upah tunjangan hidup; dengan penuh hormat dan sopan mereka menghadapi tuannya yang kasar.

Semua hal yang dikatakan dan dikerjakan adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan, karena Tuhan adalah hidup mereka dan masa depan mereka

Bukankah semua perubahan kehidupan para gembala dimulai dari hati yang diubahkan oleh Tuhan?

Pada umumnya, manusia selalu berusaha untuk memperbaiki atau mengubah kondisi kehidupan sekarang. Itu adalah hal yang memang penting. Tetapi apalah artinya, jika semua kondisi kehidupan telah diperbaiki dengan sempurna, namun yang tinggal adalah hati yang belum berubah atau hati yang lama. Apakah kita dapat memuji dan memuliakan Allah? Tidaklah demikian.

Jadi, ubahlah hati kita terlebih dahulu oleh kasih karunia-Nya, maka Ia pun akan mengubah kondisi kehidupan dalam proses waktu. Mengapa kita sering menyalahkan kondisi kehidupan sebagai akar masalah? Bukankah masalah itu berasal dari hati yang lama?

Bagi para gembala, hidup adalah suatu pujian dan kemuliaan bagi Allah. Bagaimanakah keadaan hidup kita sekarang?