19 January 2019

Ketergantungan Ilahi

“Ketergantungan Ilahi”

Bila pernikahan dan keluarga Anda terasa seperti lelucon atau pentas drama, hal itu bukan sesuatu yang baru bagi Tuhan atau sesuatu yang tidak mampu diatasi oleh-Nya. Banyak kekristenan saat ini mengajarkan untuk mengembangkan karunia “kita”, meningkatkan talenta “kita”, meraih potensi “kita”, namun banyak teladan dan pengajaran Yesus sebenarnya mengenai penyerahan diri kepada pekerjaan Roh Kudus. Biarlah pernikahan mengajarkan kita untuk percaya pada Roh Kudus. Dia telah membuktikan diri-Nya. Bila kita sungguh ingin mentransformasi pernikahan kita, kita harus belajar tentang kekuatan dari ketergantungan ilahi.

Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan segala yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Mungkin tidak semua yang kita pikir kita butuhkan, tapi segala yang memang sungguh kita perlukan. Bukan berarti pekerjaan akan menjadi mudah. Tapi Tuhan berjanji melalui Yesaya, “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah, dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes. 40:29 TB).

Jangan mengabaikan hal ini, karena ini penting: Yesaya 40:29 berasumsi bahwa Tuhan akan memanggil kita untuk berbagai pekerjaan di mana kita lemah jika sendirian.

“Rahasia” untuk pernikahan yang sakral sesungguhnya ada dalam suatu pribadi yaitu Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan. Karena Tuhan adalah Tuhan yang mementingkan hubungan (memenuhi kebutuhan kita akan keselamatan dengan mengirimkan Anak-Nya), bukan hal yang mengejutkan bila Ia memenuhi kebutuhan kita akan transformasi dengan mengirimkan diri-Nya sendiri dalam pribadi Roh Kudus.

Oleh karena pernikahan adalah salah satu bentuk penyembahan paling mendalam, di mana dua orang percaya dapat saling berbagi, tidaklah mungkin untuk menikah dengan sakral tanpa Roh Kudus aktif dalam hidup kita, membantu kita untuk mengerti arti mengasihi, memberikan kekuatan untuk mengasihi, meyakinkan ketika kita gagal untuk mengasihi, memperbarui hati di saat kita menjadi lelah dalam mengasihi, dan mencurahkan harapan ketika kita menjadi putus asa dalam mengasihi.

* Apakah Anda bergantung pada Roh Kudus untuk menguatkan Anda dan pernikahan Anda? Pada situasi seperti apa di saat Anda merasa tidak mampu, tetapi dikuatkan oleh Roh Kudus?