26 April 2019

Selalu Bersyukur

CUKUP ITU BERAPA?

"Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?" Matius 6:31

Alkisah seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapa pun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan "CUKUP"

Seketika si petani terpengarah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu.

Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.

Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi rumahnya. Masih kurang!

Sampai Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya.

Belum cukup!
Dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya, karena dia tidak pernah bisa berkata "CUKUP".

Salah satu kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia adalah kata "CUKUP" Kapankah kita bisa berkata cukup?

• Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
• Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
• Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
• Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
• Anak² menganggap orang tuanya kurang murah hati.

Semua merasa kurang.., kurang.. dan kurang..

Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa MENSYUKURI segala sesuatunya.

Tak perlu takut berkata cukup.
Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"CUKUP" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri.

Dengan mengucapkan kata cukup, membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.

Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit untuk berkata cukup.

Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang BERBAHAGIA.

"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan." 2 Korintus 8:14-15