09 June 2019

Kuasa Dalam Doa

Seorang pemudi sudah tidak bekerja beberapa hari sebab ia sedang sakit gondongan atau benguk dan harus beristirahat di rumahnya. Mendengar hal ini, teman kantornya yang juga adalah orang Kristen datang untuk menjenguk. Setelah datang menjenguk dan berbincang-bincang, temannya menganjurkan pemudi tadi untuk mengobati gondongannya dengan cara menempel-nempelkan telur rebus yang sudah dimasukkan ke dalam kulkas selama beberapa menit. Pemudi ini pun mengikuti anjurannya. 


Keesokkan harinya, seorang teman lain yang sepelayanan dengan dia datang menjenguk sambil membawa blau (semacam bahan pencuci berwarna biru). Ia menganjurkan agar pemudi tadi menempelkan blau di tempat gondongan agar cepat sembuh. Dia pun melakukannya. 


Sore harinya, seorang teman gereja yang dia kenal juga datang menjenguk dan menganjurkan agar pemudi tadi menempel-nempelkan nasi ke tempat gondongnya kemudian memberikan nasi tadi kepada ayam untuk dimakan. Katanya, untuk mempercepat proses penyembuhan. Karena memang sang pemudi ingin cepat sembuh, akhirnya ia menerima semua anjuran yang diberikan oleh teman-temannya. Ia menerima dengan ikhlas leher serta wajahnya penuh dengan warna biru, lengket karena nasi yang ditempel dan berbau agak amis karena telur rebus. 


Apakah kita seringkali hidup sama seperti teman-teman si pemudi itu? Mereka banyak memberikan solusi yang kelihatannya memang baik. Tetapi sayangnya, mereka malah lupa untuk mengaktifkan kuasa yang Tuhan berikan bagi orang percaya? Mereka lupa berdoa. Padahal, saat orang percaya berdoa, saat itulah kuasa kesembuhan Tuhan mulai bekerja. 


Selama ini, apakah yang biasa menjadi pokok doa kita? Apakah kita sadar bahwa doa adalah salah satu cara yang Tuhan berikan bagi orang percaya untuk menyalurkan kuasa-Nya dalam hidup orang lain? 


Maukah kita mulai mendoakan orang sakit di sekitar kita?